Hal tersebut dilatarbelakangi oleh survei data analisis dari English Longitudinal Study on Ageing (ELSA) yang menemukan bahwa usia harapan hidup pria tiap tahun semakin meningkat. Ini menyebabkan akan semakin banyak jumlah pria paruh baya yang ditinggal oleh pasangannya.
"Saat pasangan mereka meninggal, seringnya kehidupan sosial seorang pria akan menyusut," kata kepala eksekutif Independent Age, Janet Morrison, seperti dikutip dari BBC pada Selasa (14/10/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rumah biasanya dipenuhi oleh anak-anak. Wanita menjaga keluarga tetap erat dan orang-orang mengandalkan mereka. Saat wanita meninggal, orang-orang perlahan pergi dari pria yang ditinggalkan," kata Jhon (73) yang istrinya meninggal lima tahun lalu kepada peneliti.
Pria paruh baya lainnya, Dick O'Brien (77) dari Reading mengatakan dirinya memiliki 13 cucu dan 10 cicit. Namun, meski dengan anggota keluarga yang besar, O'Brien mengaku terkadang dalam sehari tidak ada yang menjenguk dirinya. Ia mencoba mengusir kesepian dengan datang ke klub namun ia tidak mampu menyesuaikan diri.
"Saya mampu bersosialisasi paling baik saat berbincang dengan orang asing di atas skuter. Orang yang melihat mungkin berpikir saya adalah orang tua yang bahagia. Tapi saya kembali ke rumah yang kosong. Rumah benar-benar sepi dan ini mengganggu saya, membuat saya depresi," kata O'Brien.
Bukti studi menunjukkan bahwa sebenarnya baik pria atau wanita tua sama-sama mengalami kesepian jika ditinggal pasangannya. Namun pada pria hal ini makin menjadi masalah karena pria lebih kecil kemungkinannya untuk meminta tolong dari orang sekitar.
Dengan kesepian dan isolasi dikaitkan dengan kesehatan mental dan fisik yang buruk, studi menekankan sangat penting untuk menargetkan layanan sosial bagi pria paruh baya yang efektif.
(up/up)










































