Aspinall yang berasal dari Wigan, Inggris, mendeskripsikan kejadian mengerikan tersebut bermula saat ia menggunakan rokok elektriknya. Saat dipakai rokok mengalami overheat (terlalu panas) dan kemudian meledak.
"Rokok menyala terang dan membakar tangan saya. Saya menjatuhkan rokok dan rokok tersebut kemudian meledak," ujar Aspinall
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rokok itu bisa saja meledakkan kepala saya. Tadinya saya pikir saya akan kehilangan kaki saya. Saya hanya bisa bersyukur masih hidup. Ahli bedah bilang luka saya seperti ditembak dengan pistol oleh seseorang," kata Aspinall.
Aspinall dirawat selama sembilan hari dan harus menjalani perawatan cangkok kulit sekurangnya tiga tahun untuk memulihkkan kaki kanannya.
Toko yang menjual rokok elektrik tersebut ke Aspinall menyalahkan pemakaian baterai yang tidak tepat sebagai penyebab rokok meledak.
Selain Aspinall, kejadian serupa juga pernah terjadi pada bulan Agustus 2014 yang memakan korban bernama David Thomson (62) warga Wallasey, Merseyside. Petugas pemadam Merseyside Fire and Rescue Service (MFRS) yang menangani kasus ini mengatakan rokok elektrik Thomson meledak saat sedang diisi ulang baterainya dan menyulut tabung oksigen yang ada di dalam rumah.
Manajer MFRS daerah, Myles Platt mengatakan dari penyelidikan diduga alat pengisi daya yang digunakan oleh Thomson bukan alat asli yang disertakan bersama rokok elektrik tersebut.
"Kami mendorong orang-orang untuk selalu menggunakan peralatan elektronik sesuai dengan instruksi dari pabrik. Pastikan tidak ada barang elektronik yang dibiarkan mengisi daya semalaman atau terlalu lama," kata Platt seperti dikutip dari BBC pada Selasa (14/10/2014).
Platt juga mengatakan untuk selalu menggunakan rokok elektrik orisinal dari sumber terpecaya serta jangan campur satu bagian rokok elektrik dengan bagian dari rokok elektrik lain.
(vit/vit)











































