Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), dr Rino A. Gani, SpPD-KGEH, pengobatan untuk Hepatitis C di Indonesia saat ini masih menggunakan terapi suntik. Ia membenarkan bahwa terapi ini harus dilakukan secara konsisten.
"Iya di sini masih terapi suntik. Tapi ya saya kira pengobatan apapun harus konsisten, jangan berhenti di tengah-tengah," tuturnya kepada detikHealth, ditemui usai acara konferensi pers 'Hepatitis C: Ayo Periksa, Sembuhkan Segera', yang diselenggarakan di RS Siloam Semanggi, Jakarta, seperti ditulis Kamis (16/10/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuan utama pengobatan adalah untuk mengurangi jumlah virus Hepatitis C di dalam tubuh sampai tak terdeteksi lagi. Berhasil atau tidaknya pengobatan bisa diketahui melalui tes darah untuk melihat muatan virusnya dan melihat apakah sel hati sudah dalam kondisi baik.
Hasil terbaik yang diharapkan adalah Respons Virologi Menetap (SVR-Sustained Virologic Response) yang berarti bahwa di dalam darah sudah tidak terdeteksi lagi adanya Virus Hepatitis C (VHC), setelah 6 bulan atau lebih terapi selesai.
"Tapi tidak boleh setengah-setengah, bikin kebal sih tidak. Tapi terapinya bisa gagal. Ini kan namanya buang uang, buang waktu dan buang tenaga," imbuh dr Rino.
(ajg/vta)











































