Prof. Dr. Franciscus D.Suyatna, Ph.D., Sp.FK dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. Menurut Prof Frans, mengatakan efek jangka panjang dari terlalu sering menggunakan antinyamuk, terutama yang terhirup aromanya, adalah dapat menyebabkan keracunan ringan. Ini juga berdampak pada gangguan pernapasan, hingga daya tahan tubuh yang melemah.
"Untuk (antinyamuk) yang dioles juga bisa menyebabkan gangguan kulit. Tetapi itu kan salah satu upaya pencegahan. Kalau nyamuk tidak bisa ditanggulangi dengan cara fisik karena terpaksa misalnya mesti pergi ke daerah yang malaria atau pergi ke daerah-daerah yang banyak nyamuk maka kita harus oleskan meskipun tidak tahan lama, mungkin sekita tiga jam efeknya sudah hilang)," jelas Prof Frans dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Kamis (23/10/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, jika obat nyamuk sampai tertelan atau termakan, maka ini yang paling berbahaya dan yang bersangkutan harus segera mendapatkan pertolongan. "Obat nyamuk bakar yang termakan atau tertelan bisa menyebabkan keracunan atau kematian, bergantung pada seberapa banyak yang tertelan. Ya kalau termakan tetapi sedikit itu mungkin tidak apa-apa, tetapi bila termakan banyak harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan," sambung Prof Frans.
Jika antinyamuk berbahaya secara langsung bagi kesehata manusia, tentu tidak diboleh diedarkan di pasaran. Namun demikian, masyarakat juga harus bijak dalam menggunakan antinyamuk maupun bahan kimia untuk rumah tangga lainnya. Jika antinyamuk digunakan secukupnya alias tidak berlebihan, tentu risiko bahaya bisa diminimalkan.
(vit/vit)











































