Jet lag sendiri merupakan gangguan sementara akibat kelelahan yang diakibatkan kurangnya kualitas tidur. Sehingga menyebabkan rasa sakit di kepala, sembelit, berkeringat, bahkan menjadi pelupa. Hal demikian terjadi akibat perjalanan jauh yang melewati zona waktu, sehingga jam tubuh menjadi terganggu. Begitu pula dengan mikroba yang ada di dalam tubuhnya.
"Peneliti menemukan bahwa orang yang sering terbang melintasi zona waktu yang berbeda atau orang sering bekerja secara shift memiliki kecenderungan mengalami obesitas dan penyakit komplikasi lainnya," ujar Eran Elinav yang merupakan peneliti Weizmann Institute Of Science seperti dikutip Times of India, Kamis (23/10/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian ini dilakukan pada tikus-tikus selama 24 jam. Tikus-tikus tersebut mengalami perubahan waktu antara siang dan malam yang abnormal, sehingga kondisinya mirip dengan orang yang jet lag atau pekerja shift.
Hasilnya menunjukkan bahwa mikroba yang ada di tubuh tikus akan mengalami perubahan komposisi. Sehingga, bakteri yang bisa menyebabkan kegemukan menjadi lebih banyak.
"Demikian juga ketika jet lag dialami oleh dua orang yang telah melakukan perjalalan dari Amerika ke Israel. Mereka akan mengubah komposisi mikroba diusus, sehingga akan mendukung pertumbuhan bakteri lainnya yang dapat menyebabkan obesitas dan penyakit yang berhubungan dengan metabolisme tubuh," ujar Elinav.
Dari hasil temuan ini para peneliti akan mencoba terapi probiotik yang mungkin dapat digunakan untuk menormalkan kembali mikroba pada tubuh seseorang yang memiliki gaya hidup tak sehat. Seperti tidak teraturnya pola tidur akibat dari pergantian shift kerja maupun perjalanan jarak jauh sehingga seseorang yang mengalami jet lag tidak akan mengalami obesitas dan risiko penyakit lainnya.
"Targetnya dengan terapi probiotik atau antimikroba dapat mengurangi atau bahkan mencegah risiko mereka terserang obesitas dan komplikasinya," tutur Elinav.
(mrs/vit)











































