Menanggapi hal ini, dr Azimatul Karimah SpKJ menuturkan pada prinsipnya, memendam emosi terutama emosi negatif (represi) merupakan mekanisme pertahanan manusia yang alamiah ketika menghadapi masalah.
"Namun ketika energi psikis kita lelah dan tidak mampu menampung emosi yang terpendam, secara alamiah represi akan berubah menjadi bentuk yang lain, misalnya nyeri dada yang merupakan mekanisme pertahanan lain yang disebut somatisasi," tutur wanita yang akrab disapa dr Uci ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna mengatasi kebiasaan memendam emosi ketika ada masalah atau tengah kesal dengan orang lain, dr Uci menyarankan cobalah mengubah mindset dalam pikiran mengenai harapan terhadap orang lain. Sebab, bagaimana pun kita tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain.
"Justru yang paling bisa kita kendalikan adalah perilaku kita sendiri terhadap situasi yang tidak sesuai dengan harapan kita. Kemudian, ketika masalah dipendam lalu timbul ktegangan. lakukanlah relaksasi," imbuh dokter yang praktik di RSUD Dr Soetomo Surabaya ini.
Menurut dr Uci, tiap orang memiliki cara masing-masing untuk relaksasi misalnya saja ada yang memilih dengan cara meditasi, olah napas, mendengarkan musik yang menenangkan, mendatangi tempat yang menenangkan, olahraga, atau pijat. Hal terpenting lainnya yang perlu dilakukan adalah belajar mengekspresikan emosi negatif dengan cara yang tepat dan tidak menyakiti perasaan orang lain.
"Kalau punya orang yang dipercaya dan mampu menyimpan rahasia, ceritakan apa yang dirasakan, yang biasa disebut uneg-uneg pada orang tersebut. Bukan untuk minta nasihat, tetapi untuk mengurangi tekanan perasaan," kata dr Uci.
Bila memungkinkan, bicarakan dan diskusikan masalah yang Anda alami dengan orang yang bersangkutan. Pastinya, dengan emosi yang lebih positif dan kepala dingin sehingga diharapkan orang tersebut mampu menerima pendapat yang Anda lontarkan.
(rdn/up)











































