Vaksin yang tengah dikembangkan di Indonesia dan empat negara Asia lainnya tersebut disinyalir akan mulai dipasarkan pada tahun 2016. Hal ini didasari dari tahap uji coba vaksin yang menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, berjalan dengan baik.
Kepala Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Dien Emawati, M.Kes, mengatakan pembuatan vaksin DBD ini jika telah selesai tentunya akan sangat bermanfaat bagi rakyat Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak-anak dikatakan oleh Dien adalah populasi yang berisiko tinggi terkena DBD. Data Dinkes DKI Jakarta menunjukkan terdapat 229 kasus DBD pada 100.000 anak dengan usia 7-12 tahun. Selain itu pada anak usia 7 tahun kebawah ditemukan ada 178 kasus tiap 100.000 anak.
Dien mengatakan, saat vaksin siap dipasarkan, pemerintah daerah akan siap membantu ketersediaannya untuk masyarakat. Selama ini Dinkes DKI menganggarkan banyak dana untuk perawatan DBD yang dikatakan oleh Dien bisa dialihkan untuk vaksin.
"Kita tahu setiap tahun yang kita tanganin itu ada sekitar 8.000 orang. Kalau 8.000 diopname dengan satu orang (membutuhkan biaya -red) lima juta saja, atau enam juta, itu totalnya udah berapa. Vaksin mungkin 150 ribu atau 200 ribu-an untuk dua kali pemberian. Jika dibandingkan dengan biaya enam juta untuk dia dirawat empat hari kan lebih bagus vaksin," ujar Dien.
Akan tetapi, Dien menambahkan vaksin gratis tersebut nantinya hanya akan diberikan kepada rakyat yang tidak mampu.
"Bagi yang kaya ya beli, bagi yang miskin akan kita lindungi dan kita berikan," tutup Dien.
(vit/vit)











































