Menurut ahli jantung dari RS Jantung Harapan Kita, dr Isman Firdaus, SpJP-FIHA, transplantasi jantung atau istilah awam 'cangkok' jantung secara umum dilakukan pada pasien dengan kondisi gagal jantung terminal. Pasien ini biasanya sudah mendapatkan pengobatan yang maksimal namun pasien masih mengalami keluhan sesak napas atau keterbatasan aktivitas.
"Gagal jantung tersebut dapat disebabkan oleh berbagai sebab, antara lain kerusakan pembuluh koroner yang tidak bisa diintervensi (intervensi CABG/operasi by bass atau PTCA/pemasangan ring), kerusakan katup yang sangat berat, atau kerusakan otot jantung yang luas dengan fungsi ejeksi yang rendah (fraksi ejeksi kurang dari 30%), radang jantung (miokarditis), atau tumor di jantung," ungkap dr Isman kepada detikHealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penilaian ini perlu diperhatian khusus karena ada yang secara perhitungan sudah parah tetapi pada kenyataannya pasien masih dapat beraktivitas di keseharian dengan baik, dalam hal ini cangkok jantung tidak diperlukan. Yang pasti usia juga perlu diperhatikan, dibatasi untuk kurang dari 65 tahun," ujar dokter yang berpraktik di RS Asri Jakarta tersebut kepada detikHealth, Senin (27/10/2014).
Tak cuma orang dewasa, anak-anak pun bisa diberikan prosedur transplantasi jantung jika memang membutuhkan. Demikian disampaikan konsultan bedah jantung dan vaskular Pelayanan Jantung Terpadu RSCM, dr Ismail Dilawar, SpBKV, MARS.
"Transplantasi jantung adalah suatu tindakan pembedahan jantung dengan mengganti jantung yang tidak sehat dari calon penerima donor dengan jantung yang sehat dari pendonor. Transplantasi jantung dilakukan terhadap pasien anak atau dewasa yang memiliki kondisi penyakit gagal jantung berat," tuturnya.
(ajg/up)











































