Jakarta -
Terapi paliatif biasanya diberikan pada pasien kanker stadium lanjut. Sebabnya, terapi paliatif tidak lagi memfokuskan pasien pada pengobatan, namun lebih kepada bagaimana pasien dapat menikmati menjalani hidupnya.
Akan tetapi, pakar kanker payudara dari RS Kanker Dharmais, dr Ronald A Hukom, SpPD-KHOM, mengatakan bahwa terapi paliatif juga dapat diberikan pada pasien kanker stadium awal. Mengapa?
"Harus dari awal dong. Karena terapi paliatif itu kan mencakup semua. Pengobatan dengan obat, pendampingan keluarga hingga penanganan oleh tim dokter spesialis, semuanya," tutur dr Ronald pada temu media Early versus Advanced Breast Cancer di FX Sudirman, Senayan, Jakarta Selatan, seperti ditulis pada Kamis (30/10/2014).
1. Meningkatkan Harapan Hidup
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
dr Ronald mengatakan bahwa terapi paliatif pada pasien kanker dapat meningkatkan harapan hidup. Berdasarkan penelitian, angka harapan hidup pasien dapat meningkat hingga 60-70 persen.
"Pengobatan paliatif akan meningkatkan harapan hidup pasien kanker sebanyak 60-70 persen dalam 5 tahun ke depan," tuturnya.
2. Membuat Pasien Menikmati Hidup
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Pengobatan pasien paliatif tak hanya dengan kemo dan terapi hormon. Meski jarang digunakan di Indonesia, pengobatan dengan morfin juga dapat dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit adn nyeri.
"Jadi bukan hanya pasien asal hidup, tapi membuat pasien menikmati hidup. Pasien bebas nyeri, bebas rasa sakit, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari semaksimal mungkin," tutur dr Ronald.
3. Mendekatkan Pasien dengan Keluarga
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
dr Carmen Jahja, SpKO, Wakil Ketua Yayasan Kanker Indonesia DKI Jakarta, mengatakan bahwa sebagian besar pasien akan merasa enggan bahkan takut untuk melanjutkan pengobatan karena merasa takut harus di rawat inap di rumah sakit.
Menurut dr Carmen, disinilah peran keluarga akan muncul. Keluarga yang sudah diberi pelatihan paliatif akan dapat menemani pasien sehingga dapat memberikan dukungan moril.
"Kita melibatkan keluarga, dokter psikolog. Jadinya aspek psikologis yang penting. Keluarga diberi pelatihan bahwa kanker tidak harus menderita, masih bisa kok beraktivitas normal," ujarnya.
4. Melibatkan Rohaniwan
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
dr Carmen Jahja juga mengatakan bahwa pengobatan paliatif tak hanya melibatkan dokter dan keluarga, namun juga melibatkan rohaniwan. Mengapa?
"Kan kalau ada rohaniwan pasien menjadi lebih tenang, lebih damai, lebih siap menghadapi akhirnya. Intinya sih kita ingin pasien pergi senyaman dan sedamai mungkin tanpa rasa sakit," paparnya.
dr Ronald mengatakan bahwa terapi paliatif pada pasien kanker dapat meningkatkan harapan hidup. Berdasarkan penelitian, angka harapan hidup pasien dapat meningkat hingga 60-70 persen.
"Pengobatan paliatif akan meningkatkan harapan hidup pasien kanker sebanyak 60-70 persen dalam 5 tahun ke depan," tuturnya.
Pengobatan pasien paliatif tak hanya dengan kemo dan terapi hormon. Meski jarang digunakan di Indonesia, pengobatan dengan morfin juga dapat dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit adn nyeri.
"Jadi bukan hanya pasien asal hidup, tapi membuat pasien menikmati hidup. Pasien bebas nyeri, bebas rasa sakit, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari semaksimal mungkin," tutur dr Ronald.
dr Carmen Jahja, SpKO, Wakil Ketua Yayasan Kanker Indonesia DKI Jakarta, mengatakan bahwa sebagian besar pasien akan merasa enggan bahkan takut untuk melanjutkan pengobatan karena merasa takut harus di rawat inap di rumah sakit.
Menurut dr Carmen, disinilah peran keluarga akan muncul. Keluarga yang sudah diberi pelatihan paliatif akan dapat menemani pasien sehingga dapat memberikan dukungan moril.
"Kita melibatkan keluarga, dokter psikolog. Jadinya aspek psikologis yang penting. Keluarga diberi pelatihan bahwa kanker tidak harus menderita, masih bisa kok beraktivitas normal," ujarnya.
dr Carmen Jahja juga mengatakan bahwa pengobatan paliatif tak hanya melibatkan dokter dan keluarga, namun juga melibatkan rohaniwan. Mengapa?
"Kan kalau ada rohaniwan pasien menjadi lebih tenang, lebih damai, lebih siap menghadapi akhirnya. Intinya sih kita ingin pasien pergi senyaman dan sedamai mungkin tanpa rasa sakit," paparnya.
(mrs/up)