70-80 Persen Pasien Kanker Berobat Ketika Sudah Stadium Lanjut

70-80 Persen Pasien Kanker Berobat Ketika Sudah Stadium Lanjut

- detikHealth
Kamis, 30 Okt 2014 09:30 WIB
70-80 Persen Pasien Kanker Berobat Ketika Sudah Stadium Lanjut
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Kanker masih menjadi penyakit paling mematikan di Indonesia. Dokter mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah sebagian besar pasien terlambat berobat, sehingga penanganan yang dilakukan tak bisa maksimal.

dr Ronald A. Hukom, SpPD-KHOM dari RS Kanker Dharmais mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya, hanya 20-30 persen pasien kanker yang berobat ketika masih stadium awal. Sementar sisanya berobat ketika kanker sudah memasuki stadium akhir.

"Di Dharmais itu yang berobat kanker ketika masih dalam stadium 1 atau 2 hanya 20-30 persen. Nggak pernah lebih sampai 40 persen gitu. Sisanya 70-80 persen berobat ketika kanker sudah masuk stadium lanjut yakni stadium 3 ke atas," tutur dr Ronald dalam temu media Early versus Advanced Breast Cancer di FC Sudirman, Senayan, Jakarta Selatan, seperti ditulis Kamis (30/10/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dr Ronald, terlambat berobat berarti meningkatkan risiko kematian bagi pasien. Sebabnya, kanker sudah menyebar hingga ke organ lain dan sangat sulit dihilangkan meski sudah melakukan operasi.

"Kalau masih stadium 1 atau 2 masih bisa operasi. Di angkat tumornya sebelum menyebar. Kalau sudah stadium lanjut ya angka harapan hidupnya sudah di bawah 40 persen. Biasanya hanya di kemo, terapi hormon atau laser," sambungnya lagi.

Terapi tersebut diakui dr Ronald memang tak bisa menyembuhkan pasien kanker stadium lanjut. Hanya saja, terapi tersebut dibutuhkan untuk mengurangi angka kesakitan (morbiditas) dan risiko kematian (mortalitas) pasien.

Karena itulah pasien kanker stadium lanjut sangat membutuhkan terapi paliatif. Terapi ini memang tidak memfokuskan kegiatan pada bagaimana cara menyembuhkan pasien, namun lebih kepada bagaimana pasien dapat melakukan aktivitas tanpa terganggu rasa sakit.

"Jadi bukan hanya pasien asal hidup, tapi membuat pasien menikmati hidup. Pasien bebas nyeri, bebas rasa sakit, dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari semaksimal mungkin," tutur dr Ronald.

(mrs/up)

Berita Terkait