Sembarangan Beri Morfin pada Kekasih, Dokter di Australia Diskors

Sembarangan Beri Morfin pada Kekasih, Dokter di Australia Diskors

- detikHealth
Kamis, 30 Okt 2014 16:55 WIB
Sembarangan Beri Morfin pada Kekasih, Dokter di Australia Diskors
Perth -

Dr Paul Langton, seorang dokter jantung dari Perth, Australia Barat, kini tengah menghadapi hukuman pencabutan izin praktik yang diberikan oleh Dewan Medis Australia Barat setelah dirinya terbukti melakukan tindakan yang tidak profesional. Ia terbukti memacari pasiennya yang masih remaja dan memberikan resep morfin secara sembarangan.

Dr Langton yang telah berpraktik selama 12 tahun di Hollywood Private Hospital dicabut izin praktiknya selama 18 bulan ke depan terhitung tanggal 21 November. Ia juga didenda sekitar Rp 360 juta atas perbuatannya tersebut.

Dari laporan investigasi, diketahui Dr Langton menjalin hubungan dengan pasiennya yang saat itu berusia antara 18 sampai 19 tahun pada September 2010 sampai Agustus 2011. Pada masa itu Dr Langton memberikan kekasihnya suntikan morfin untuk mengobati sakit punggung kronis dan memberikannya resep morfin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dewan medis mengatakan tindakan tersebut menyalahi tindakan profesional seorang dokter karena ia memberikan morfin untuk pengobatan tanpa melihat rekam medis pasien. Sang kekasih yang namanya dirahasiakan ini ternyata memiliki sejarah penyalahgunaan obat-obatan dan minum-minuman keras. Oleh karena itu pemberian morfin dikatakan oleh dewan medis akan menambah risiko adiksi.

"Saya menyadari diri saya pada saat itu berada dalam keadaan seperti berada di lereng yang licin dan melakukan sesuatu yang salah," kata Langton seperti dikutip dari ABC Australia, Kamis (30/10/2014).

Menurut laporan pengadilan, Dr Langton mengaku dirinya sedang depresi pada saat itu dan melakukan hal yang tidak profesional. Ia mengatakan dirinya akan bertanggung jawab terhadap tindakannya dan tidak akan menyalahkan kekasihnya.

Kepada ABC, Dr Langton mengaku kasus ini terbuka setelah ia menyerahkan dirinya sendiri. Ia mengatakan menyesali perbuatannya dan akan mengikuti sesi terapi dengan psikolog sebelum ia bisa berpraktik lagi.

(up/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads