dr Sigit Priohutomo, MPH, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung mengatakan bahwa kebiasaan merokok yang dilakukan oleh orang tua mempunyai pengaruh besar terhadap risiko pneumonia anak. Jika para perokok tak percaya, ia pun menantang para perokok untuk membuktikan sendiri hal tersebut.
"Data penelitiannya memang belom ada. Tapi saya yakin itu (asap rokok) sangat berpengaruh. Coba buktikan saja sendiri, seluruh perokok berhenti merokok misalnya setahun saja. Saya berani jamin pasti angka bayi balita kita meninggal akibat pneumonia turun," tutur dr Sigit pada konferensi pers World Pneumonia Day di Gedung Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (4/11/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya masa tega sama anak sendiri. Jangan merokoklah. Ini kan bukan soal hak asasi manusia lagi, tapi sudah merenggut hak hidup orang lain," tuturnya.
Di kesempatan yang sama, dr Nastiti, SpA(K), Ketua Unit Kelompok Kerja (UKK) Respiro PP Ikatan Dokter Anak Indonesia mengatakan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk merokok bisa lebih besar dari biaya rawat inap anak yang menjadi pasien pneumonia. Karena itu ia menyarankan agar kebiasaan merokok yang dilakukan orang tua haruslah dihentikan.
"Biaya merokok orang satu hari saya yakin lebih besar dari biaya rawat inap anak yang kena pneumonia, bahkan yang masuk ICU," tuturnya.
"Bahkan di media sosial kemarin saya juga sempat baca ada yang bilang rokok sebabkan anak anemia. Maksudnya apa? Akhirnya diketahui bahwa ibu-ibu nggak bisa masak daging soalnya duitnya dipakai beli rokok sama bapaknya," tegasnya.
(mrs/vit)











































