"Begitu ada BPJS, pasien-pasien yang tadinya bersembunyi karena takut masalah biaya, memang sekarang mau keluar semua. Namun yang menjadi masalah sekarang, di ujung tombak alatnya malah belum ditambah," ungkap Prof Dr dr Soehartati A Gondhowiardjo, SpRad(K), OnkRad dalam jumpa pers ESTRO Course 2014 di Fakultas Kedokteran UGM, Selasa (4/11/2014).
Dirut RSUP Dr Sardjito, dr Mochammad Syafak Hanung, SpA pun menimpali. Ia mengakui fasilitas radioterapi di salah satu rumah sakit terbesar di DIY itu hanya dua, yakni Kobalt dan Linex. Dengan kedua alat itu pun, pasien yang bisa terlayani rata-rata hanya sebanyak 65 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat kondisi semacam ini, Prof Soehartati tentu makin prihatin. Apalagi menurutnya, bila peningkatan jumlah pasien kanker ini tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadai, dan kapasitas maksimal yang tidak dapat dilalui, ia khawatir akan muncul 'waiting list' atau daftar tunggu.
"Yogya ini daftar tunggunya satu tahun, di Semarang juga sama. Di Surabaya 6 bulan, di RSCM aja, yang top referral hospital sekarang ada 200 pasien yang nunggu diterapi. Ini unacceptable, tidak bisa diterima. Apa yang terjadi kalau keluarga kita harus menunggu satu tahun untuk bisa diterapi?" keluhnya.
Salah satu pembicara dalam ESTRO School 2014, Jesper Grau Eriksen, MD, PhD dari University of Southern Denmark mengatakan 'you have to decreased waiting time'. Mengapa? Pertama, dalam tiga pilar pengobatan kanker (operasi, radiasi, kemoterapi), radioterapi memegang peranan sebesar 60-70 persen.
"Tapi kita harus mengobatinya secepat mungkin, kalau menunggu sampai satu tahun itu tak ada gunanya. Apalagi radioterapi baru bisa efektif bila deteksinya sudah sejak dini," jelasnya.
Prof Soehartati menimpali menunggu satu tahun sama dengan akan menambah stadium kanker itu sendiri. "Jadi misal breast cancer kalau terdeteksi sejak awal, keberhasilan terapinya bisa sampai 85 persen. Tapi jika menunggu sampai setahun, tahu-tahu sudah stadium 3 dengan keberhasilan terapi hanya 20 persen," pungkasnya.
ESTRO Course digelar oleh European Society for Radiotherapy and Oncology (ESTRO) untuk memberikan edukasi kepada para dokter, terutama di bidang radioterapi dan onkologi atau kanker berikut pengobatannya. Kali ini ESTRO Course bertempat di Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, mulai tanggal 2-6 November 2012 dan diikuti peserta dari berbagai negara di Asia Tenggara, Jepang, India, Pakistan dan Australia.
(lil/vit)











































