"Ia suka sekolah, berlarian kesana-kemari, bermain, dan menjadi anggota paduan suara gereja," ungkap sang ibu, Carla.
Hingga kemudian pada bulan November 2013, Carla membawa Marysue ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan vaksin flu rutin. Dua hari setelahnya, Marysue tampak baik-baik saja, dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Panik, Carla dan suaminya langsung memanggil ambulans. Sesampainya di rumah sakit, keduanya sempat syok ketika mendapati bahwa putri mereka didiagnosis dengan sebuah infeksi otak langka yang disebut dengan 'acute disseminated encephalomyelitis' (ADEM). Infeksi atau peradangan pada otak ini hanya terjadi pada 8 dari 1.000.000 orang.
Sejak hari itu, Marysue hanya menghabiskan waktunya di atas ranjang rumah sakit yang diletakkan di ruang tamu rumahnya. Kalaupun diajak jalan-jalan, Marysue sangat bergantung pada kursi rodanya.
Kondisinya juga masih seperti setahun lalu, belum dapat berbicara dan harus digendong sang ayah bila ingin ke kamar mandi.
"Dokter tak memastikan ataupun membantahnya. Tapi kami percaya suntikan flu itulah penyebabnya. Kami telah melakukan riset pribadi untuk memastikan hal ini," ungkap Carla seperti dikutip dari GoFundMe, Rabu (5/11/2014).
Ternyata dari penelitian serupa yang dilakukan National Institutes of Health juga menemukan bahwa lima persen kasus ADEM diawali dengan pemberian vaksin pada si pasien, minimal satu bulan sebelum gejalanya muncul.
Di tahun 2008, seorang wanita berumur 75 tahun juga dilaporkan terkena ADEM dua hari selepas mendapatkan vaksin flu. Gejala awalnya juga hampir sama dengan Marysue, kaki dan tangannya mati rasa hingga akhirnya ia lumpuh dan meninggal dunia.
Menanggapi kasus ini, Dr Juan Dumois, direktur divisi penyakit menular di All Children's Hospital mengakui bila ADEM bisa muncul selepas vaksinasi, operasi atau karena infeksi bakteri.
"Tapi memang tak ada yang bisa memprediksi atau mencegahnya. Dan dengan menghindari vaksin flu pun tidak akan mencegah munculnya penyakit ini, karena ADEM lebih banyak muncul karena infeksi akibat virus flu ketimbang vaksin itu sendiri," paparnya.
ADEM, lanjut Dr Dumois, sejatinya dapat disembuhkan, akan tetapi itu hanya dapat dilakukan bila gejala awalnya sudah terdeteksi sebelum enam bulan. Bila sesudahnya, kemungkinan untuk sembuh akan sangat kecil.
Sementara itu, lewat situs GoFundMe, keluarga Marysue tengah melakukan penggalangan dana agar kamarnya dapat direnovasi menjadi lebih besar. Dengan begitu, bocah malang ini bisa dirawat dengan nyaman di rumahnya. Dalam kurun 11 hari, keluarga ini pun telah berhasil mengumpulkan uang sebanyak 3.000 dollar AS (sekitar Rp 36,5 juta).
Foto: Facebook
(lil/vit)











































