Terkait hal tersebut, menurut survei yang dilakukan pada 600 bidan Indonesia oleh perusahaan hubungan masyarakat, Edelman, sebagian besar bidan mengandalkan media internet sebagai sumber informasi mereka. Internet dan televisi menjadi sumber informasi andalan bidan selain informasi dari rekan senior atau dokter ahli.
Senior Manajer Health and Human Services Edelman, Arie Rukmantara, mengatakan dari survei juga ditemukan kebanyakan dari bidan tidak mengkonfirmasi informasi yang diterima dari internet. Hal tersebut ia katakan akan sangat berbahaya karena pekerjaan seorang bidan tidak jarang melibatkan nyawa pasiennya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konfirmasinya datang belakangan sementara pesan berantai sudah menyebar kemana-mana. Kami anjurkan institusi kesehatan untuk memonitor informasi kesehatan yang disampaikan dari televisi (TV) dan internet. Informasi dari internet dan televisi sangat berpengaruh pada bidan, kalau informasinya tidak tepat maka bisa sangat fatal," kata Arie pada acara temu media di Belly Clan, Intiland Tower, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2014).
Arie mengatakan jika memang pihak pemerintah merasa sulit untuk memonitor arus informasi, di Indonesia kini banyak perusahaan jasa yang siap membantu. Perusahaan-perusahaan tersebut memang bergerak di bidang media monitoring dan dapat memberikan masukan secara cepat.
Menanggapi hasil survei tersebut Ketua Daerah Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jakarta Selatan, Sri Indiah, mengatakan kecenderungan bidan untuk mencari informasi di internet dan TV dikarenakan beban pekerjaan yang berat. Internet dianggap media yang paling mudah diakses dibandingkan berkonsultasi dengan bidan senior lain.
"Itulah kelemahannya bidan itu. Tidak banyak bidan yang menulis dan berbagi ilmu. Biasanya pengurus pusat yang sudah tidak praktik lagi itu yang nulis. Ada tapi memang sedikit," kata Indiah saat ditemui pada acara yang sama.
Indiah menambahkan, di IBI sendiri rutin diadakan konsultasi dan seminar. Hal tersebut dilakukan untuk mensosialisasikan informasi terkini terkait profesi bidan. Meski acara rutin dilakukan, tapi tetap tidak sebanding dengan derasnya informasi yang datang dari internet. Untuk itu Indiah menyarankan agar bidan Indonesia meningkatkan kompetensinya sehingga tidak termakan informasi palsu.
"Dari organisasi profesi kan sudah diberikan skill dan informasi yang dibutuhkan. Yang kita cari ini mungkin berita terkini dan informasi terbaru. Kita sebenarnya sudah tahu, jadi kalau melihat informasi di internet ada yang salah itu kita akan konfirmasi ke pengurus pusat," tutup Indiah.
(vit/vit)










































