Awalnya, para ilmuwan ingin membuktikan hubungan antara gangguan kognitif dengan mirror writing. Dari 24 pasien dengan diagnosis gangguan kognitif, rupanya hanya satu yang mengalami gejala mirror writing. Artinya, fenomena tersebut bukan hal yang biasa pada gangguan kognitif.
Namun para ilmuwan menemukan hal lain. Pasien yang mengalami fenomena mirror writing mengaku tidak punya gangguan kognitif. Hasil pemeriksaan psikologis, pasien perempuan berusia 59 tahun tersebut justru mengalami anksietas atau kegelisahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasien mengapatkan diagnosis yang salah karena beberapa gejala yang menyertai kegelisahannya memang menyerupai gejala awal demensia atau pikun. Fenomena mirror writing pun menghilang dengan sendirinya beberapa bulan kemudian, setelah kegelisahannya teratasi.
Menurut para ilmuwan, temuan ini menunjukkan bahwa fenomena mirror writing bisa juga dialami orang dengan fungsi otak yang masih normal. Fenomena ini dialami juga oleh anak kecil, dan tidak selalu berhubungan dengan pertumbuhan mental yang melambat.
Kasus ini dilaporkan dalam jurnal Neuroscience edisi online pada Oktober 2014.
(up/up)











































