Pihak berwajib sendiri telah menahan dokter yang melaksanakan operasi tubektomi ini. Dr RK Gupta dan salah seorang asistennya digelandang ke kantor polisi setelah prosedur yang dituding menyebabkan 15 wanita meninggal dan 90 pasien lainnya dalam kondisi kritis di rumah sakit.
"Ini bukan kesalahan saya, pemerintahlah yang menekan saya untuk mencapai target," ungkapnya kepada media setempat, NDTV.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Dr Gupta juga bersikeras kesalahan bukan pada prosedur sterilisasi itu sendiri, melainkan obat yang diberikan kepada para pasien. Sebelumnya juga dilaporkan rampung dioperasi, para pasien dilarikan ke rumah sakit karena muntah terus-menerus dan tensi mereka menurun drastis.
Setelah sampel obat dikirim ke beberapa laboratorium di New Delhi dan Kolkata, ternyata tablet yang diberikan kepada pasien dan menyebabkan 15 pasien meninggal diketahui mengandung bahan kimia berbahaya. Hal ini diungkapkan kepala distrik Bilaspur, Siddhartha Pardeshi.
"Dari hasil tes awal ditemukan bahwa tablet antibiotik ciprocin yang diberikan kepada pasien mengandung zinc phosphide, bahan kimia yang biasa dipakai untuk racun tikus," ungkap Pardeshi seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/11/2014).
Pihak berwajib kemudian menelusuri darimana asal antibiotik tersebut. Ternyata antibiotik itu merupakan produksi Mahawar Pharmaceuticals di Raipur. Pabrik ini sebelumnya juga sempat dihentikan pengoperasiannya di tahun 2012 karena memproduksi obat-obatan di bawah standar, namun izinnya tidak dicabut.
"Tapi inilah yang kami antisipasi. Dari gejala-gejala yang terlihat pada pasien juga memastikan adanya (keracunan) zinc phosphide," tegas Pardeshi.
"Penyelidikan juga dilakukan untuk mengetahui bagaimana obat-obatan tersebut bisa menyusup ke distrik tersebut sementara stok obat yang disediakan pemerintah memadai (untuk sterilisasi)," kata Menteri Kesehatan India, Amar Agarwal.
Di hari Kamis dan Jumat dan pekan lalu, rumah sakit setempat juga mengklaim menerima sejumlah pasien baru yang menunjukkan gejala serupa dengan korban program sterilisasi yakni muntah-muntah, pening dan pembengkakan.
Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa tim medis mendapati para pasien membawa beberapa strip obat dari Mahawar. Mereka tidak mengikuti sterilisasi tapi hanya mengonsumsi obat tersebut.
Untuk sementara, pemerintah telah berhasil menyita 200.000 tablet Ciprocin 500 dan lebih dari empat juta tablet lainnya dari Mahawar. Polisi juga menangkap direktur manajer Mahawar, Ramesh Mahawar dan anak laki-lakinya, meskipun pabrik mengklaim keduanya tidak bersalah.
(lil/up)











































