Salah satu risiko yang menghantui para pekerja shift malam adalah obesitas. Ya, studi mengungkapkan mereka yang rutin bekerja dengan shift malam, yang berarti 'mengorbankan' jam tidur malamnya, memiliki pembakaran kalori yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan mereka yang bekerja shift siang.
Studi yang telah dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Science of the United States of America ini menyebutkan akar pokok masalah kesehatan pada pekerja shift malam adalah terganggunya sistem metabolisme alami tubuh. Hal ini juga berlanjut pada terganggunya irama sirkadian pada tubuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, total pengeluaran energi atau berapa banyak kalori yang terbakar mengalami penurunan cukup signifikan saat responden beralih pada sistem shift malam.
Pemimpin penelitian tersebut, Prof Kenneth Wright, mengatakan hasil ini kemungkinan didapat karena bekerja dengan shift malam pada dasarnya bertentangan biologi dasar tubuh kita. "Jam biologis tubuh menurut Prof Wright didesain untuk makan di siang hari dan istirahat di malam hari," tuturnya, seperti dikutip dari BBC, Selasa (18/11/2014).
Sara Mednick, PhD, penulis buku 'Take a Nap! Change Your Life', menyatakan bahwa kunci untuk mencegah obesitas bagi pekerja shift malam adalah tidur siang. Tidur siang setidaknya dapat mengurangi 40 kedipan mata yang mampu membantu memerangi penyakit-penyakit yang terjadi akibat bekerja shift malam, termasuk obesitas.
Tidur siang selama 20 sampai 30 menit dapat membantu mengisi ulang tenaga secara mental dan 90 menit tidur siang di hari libur dapat membantu meminimalkan hutang tidur Anda. Dengan mengambil 90 menit untuk tidur siang, metabolisme tubuh akan kembali terjaga dan tubuh dapat memproses makanan dengan baik.
(ajg/up)











































