"Sejak masih duduk di bangku sekolah hingga kuliah, teman-teman menertawakan suara saya. Mereka bahkan memanggil saya 'banci'," keluh Lu seperti dikutip dari Global Times, Jumat (21/11/2014).
Pemuda berumur 23 tahun itu makin terpuruk karena gara-gara suaranya, ia sulit mendapatkan seorang kekasih. Bahkan orang-orang menganggap ia homoseksual hanya dari melihat caranya berbicara.
Anehnya, suara 'feminin' Lu tidak hilang meskipun ia telah memasuki masa puber. Padahal ia juga bekerja sebagai seorang operator di sebuah call center. Otomatis, ia sering dikira perempuan.
Lu merupakan salah satu orang yang diuntungkan dengan prosedur ini. Belakangan di Tiongkok operasi untuk mengubah suara seseorang menjadi lebih maskulin atau feminin memang tengah digandrungi banyak kalangan, tak peduli bila sebenarnya operasi ini bersifat radikal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam prosedur ini, salah satu segmen tulang rawan dari laring atau kerongkongan dipotong kemudian Botox disuntikkan ke pita suara si pasien. Botox ini menyebabkan pita suara menjadi lebih pendek dan longgar sehingga suara yang dihasilkan menjadi lebih dalam," terang Alasdair Mace, ahli bedah THT dari Charing Cross Hospital, London.
Mace menambahkan selain pasien yang berganti jenis kelamin, operasi semacam ini juga bisa dilakukan pada pasien yang mengalami kecacatan suara semenjak lahir atau cedera.
"Tapi ingat, Botox memang bisa melumpuhkan sejumlah otot, namun itu hanya berlaku 3-6 bulan saja. Sehingga pasien harus bolak-balik ke klinik lagi untuk disuntik Botox," tuturnya.
Padahal bila pita suara terlalu sering disuntik Botox, risikonya adalah pasien akan kehilangan suara dan mengalami infeksi di organ dada. Dan pita suara yang terlalu sering dilumpuhkan, juga akan berisiko menyebabkan pneumonia.
"Pita suara itu sebenarnya dibuat bukan agar kita bisa mengeluarkan suara, tapi melindungi paru-paru dari benda-benda asing yang bisa saja masuk ke sana. Dan bila pita suara mengalami gangguan maka radang paru-paru atau pneumonia bukan tidak mungkin juga akan menyusul," papar Mace.
Kendati begitu, nyatanya orang-orang Tionghoa tetap berbondong-bondong untuk mengubah suaranya. Salah seorang dokter bedah plastik yang menawarkan prosedur ini mengaku ia telah melakukan lebih dari 200 prosedur dalam kurun empat tahun terakhir saja.
"Yang datang kepada saya rata-rata pria seperti Lu yang ingin suaranya terlihat lebih kelaki-lakian. Tapi banyak juga wanita yang ingin terdengar lebih feminin," ungkap sang dokter, Huang Yideng dari The Chinese People's Liberation Army 118 Hospital.
Seorang manajer klinik bernama Yeson Voice Center di Korea Selatan, Zhou Meiling, juga melaporkan hal serupa. Setiap tahun, ada 20-an pasien asal Tiongkok yang datang ke klinik untuk mendapatkan prosedur perubahan suara itu. Bahkan tahun lalu, Meiling melaporkan kliniknya kebanjiran 100 pasien dari Tiongkok hanya untuk prosedur serupa.
Banyak pengamat sosial menilai fenomena ini muncul karena masyarakat Tiongkok begitu menjunjung tinggi stereotip gender.
"Pria harus bertingkah laku sesuai dengan konsep maskulinitas, begitu juga sebaliknya. Masyarakat kita seharusnya lebih bisa menerima perbedaan di antara gender-gender itu, sehingga orang-orang dengan suara atau tingkah laku yang tak sesuai dengan stereotip tak perlu tertekan dan rela melakukan operasi menyakitkan seperti itu," tegas Chen Yaya dari Shanghai Academy of Social Sciences
Bahkan, ditambahkan Yaya, banyak orang Tiongkok yang suaranya normal tapi masih berupaya untuk melakukan operasi ini, hanya demi memenuhi stereotip yang dianut masyarakat tersebut.
(lil/vit)











































