Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam The Lancet Oncology, khususnya bagi dokter onkologi muda, hubungan yang baik dan dekat dengan pasiennya justru membuat mereka kesulitan untuk menyampaikan kebenaran atas kondisi si pasien.
Dalam studi ini, peneliti melakukan survei terhadao 338 onkolog di bawah usia 40 tahun. Hasilnya diketahui bahwa 59% responden mengaku kesulitan untuk memberi tahu kondisi kesehatan yang sebenarnya pada pasien yang mereka sukai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam artian, terutama mereka onkolog muda, hubungan yang lebih nyaman dan dekat dengan pasien justru membuat onkolog cemas dan khawatir ketika harus menyampaikan prognosis yang benar, membahas kompleksitas perawatab, serta menjelaskan ketersediaan obat, efek samping pengobatan, bahkan terapi yang dilakukan," tutur Prof Lesley, dikutip dari Times, Rabu (26/11/2014).
Ia menambahkan, mengaburkan garis profesional antara dokter dan pasien juga bisa memengaruhi perilaku pasien. Sebab, Prof Lesley mengatakan pasien justru bisa merasa terintimidasi ketika mereka harus komplain atas sesuatu dan mereka justru neggan ketika ingin menanyakan isu-isu seputar pengobatan, misalnya efek samping pengobatan.
Dalam studi ini, ditemukan pula bahwa setngah dari responden sudah memberikan nomor ponsel pribadi mereka. Bahkan, 14% dokter mengatakan dirinya sudah berteman dengan pasiennya di sosial media seperti facebook yang berarti kehidupan pribadi kedua belah pihak pun bisa semakin mudah diakses satu sama lain.
"Hubungan yang baik antara dokter dan pasien memang diperlukan demi kenyamanan kedua belah pihak. Tapi, setidaknya ada batas-batas yang harus diperhatikan supaya kenyamanan ini justru tidak membuat pasien ataupun dokter memiliki kendala terkait pengobatan," tegas Prof Lesley.
(rdn/up)











































