Rosie Skinner, Remaja dari Inggris yang Gemar Makan Spons

Rosie Skinner, Remaja dari Inggris yang Gemar Makan Spons

- detikHealth
Rabu, 26 Nov 2014 10:52 WIB
Rosie Skinner, Remaja dari Inggris yang Gemar Makan Spons
Rosie Skimmer (Foto: Daily Mail)
Jakarta - Setidaknya Rosie Skinner (19) menghabiskan dua buah spons besar dalam seminggu. Bukan habis karena spons digunakan untuk membersihkan sesuatu, gadis dari daerah Surrey, Inggris, ini menghabiskan spons dengan memakannya.

Adiksi yang tidak biasa tersebut dikatakan Skinner muncul sejak dirinya masih berumur lima tahun. Dalam istilah medis kondisi yang dialami oleh Skinner bernama sindrom pica, kondisi di mana orang makan benda yang tidak cocok untuk dikonsumsi dan memiliki nilai gizi.

"Saya menyukai bau spons basah. Saya mengidamkan rasa lembab spons di mulut. Jika saya menjalani hari yang membuat stres saya suka merelaksasikan diri dengan mengemil spons," ujar Skinner seperti dikutip dari berbagai media Inggris, Rabu (26/11/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang-orang dengan pica lainnya dilaporkan ada yang memakan tanah, beling, pasir, sabun, dan hal lainnya. Pica dapat menyebabkan komplikasi serius terutama apabila objek yang dimakan adalah sesuatu yang beracun atau sulit dicerna.

Pada kasus Skinner dirinya pernah dilarikan ke rumah sakit karena sakit di perut yang luar biasa saat ia berusia 13 tahun. Dokter yang mengoperasi kemudian mengangkat bola spons seukuran tikus dari perut Skinner.

"Para dokter bilang ini agak aneh dan mereka mengatakan kepada saya untuk berhenti makan spons. Saya mencoba untuk melakukan apa yang dokter katakan, tapi saya tidak bisa melawan keinginan saya sepenuhnya. Sekarang saya hanya menguyah spons sebentar kemudian meludahkannya keluar," kata Skinner.

Sindrom Pica umumnya terjadi pada wanita hamil atau orang yang memiliki kecacatan. Namun dikatakan oleh Dr Jennifer Shu dari Children's Medical Group, Amerika Serikat, juga dapat terjadi pada anak-anak. Jika anak menunjukkan gejala gangguan makan orang tua disarankan untuk menghubungi dokter.

"Konsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan evaluasi dan informasi lebih lanjut atau bahkan pengobatan jika memang dirasa perlu," ujar dr Jennifer seperti dikutip dari CNN.

(vit/vit)

Berita Terkait