Sejak kecil, ia telah didiagnosis mengidap penyakit yang sangat langka bernama Chromosome 7 Deletion. Karena penyakit ini, Ellie mengalami gangguan mental. Gadis berumur 19 tahun itu tak ubahnya seorang anak kecil berumur lima tahun, dan tak bisa makan, membaca, berjalan atau bahkan tidur dengan sendirinya, tanpa didampingi atau dibantu orang lain.
Ellie juga hidup hanya dengan satu ginjal, sehingga ia rentan terserang berbagai infeksi, termasuk kelumpuhan usus dan kandung kemih. Tulang punggungnya pun melengkung hingga 70 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dua minggu sebelum ia meninggalkan sekolah, kami mengajukan aplikasi untuk memperoleh tunjangan kerja, karena kami takkan menerima tunjangan untuk anak lagi," kisah Louise seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (27/11/2014).
Namun Louise kaget sekaligus marah ketika petugas yang mengurus tunjangan tersebut mengatakan Ellie harus menjalani tes untuk menentukan apakah ia bisa dinyatakan fit untuk mendapatkan pekerjaan atau tidak.
"Ellie sangat bergantung pada kami. Sejak lahir ia tak bisa melakukan apapun sendirian. Ia tentu tak bisa mendapatkan pekerjaan, dan saya geram dengan penolakan pemerintah ini," ketusnya.
Tak hanya itu, keluarga yang tinggal di Bradford, West Yorkshire itu juga dipaksa menunggu satu tahun lamanya agar Ellie bisa menjalani tes kesehatan. Padahal bila mereka hanya pasrah, Ellie akan kehilangan tunjangan sebesar 200 poundsterling (sekitar Rp 3,8 juta) per bulan yang seharusnya menjadi hak mereka.
"Dokter kami telah mengirimkan surat keterangan bahwasanya Ellie seorang difabel. Tapi kami justru diminta mengisi formulir yang menanyakan apa saja yang bisa dilakukan Ellie dan apa yang tidak. Ini lelucon," lanjutnya.
Tak berapa lama, laporan tentang kasus Ellie mendapatkan perhatian dari Department of Work and Pensions. Mengakui adanya kesalahan, pihak departemen pun segera menarik kebijakan untuk Ellie yang mewajibkannya mengikuti Work Capability Assessment.
"Nona McDonald tak perlu mengikuti tes ini dan kami telah memasukkannya ke dalam kelompok yang mendapat ESA. Kami juga telah membayar tunggakan tunjangan selama ia diminta menanti tes, sebesar 244,98 poundsterling (sekitar Rp 4,7 juta)," timpal jubir dari DWP terkait kasus ini.
Dengan adanya keputusan tersebut, untuk seterusnya Ellie akan menerima tunjangan untuk difabel sebesar 310 poundsterling (sekitar Rp 6 juta) yang akan dibayarkan tiap satu minggu sekali dan tunjangan kerja sebesar 141 poundsterling (sekitar Rp 2,7 juta) per dua minggu.
(lil/vit)











































