Di pojok klinik kesehatan Lapas Narkotika Cipinang, 15 warga binaan duduk melingkar dengan saling berpegangan tangan. Bersama-sama, mereka merapal doa yang mereka sebut Doa Kedamaian. Mereka adalah para pengidap HIV (Human Imunodeficiency Virus).
"Kami di sini berkumpul untuk saling menguatkan, bahwa infeksi HIV bukan akhir dari segala-galanya," kata Joko, bukan nama sebenarnya, ditemui di Lapas Cipinang, Senin (1/12/2014).
Pria 33 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir ini baru 6 bulan menghuni Lapas Narkotika. Ia dipenjara 6 tahun karena kedapatan mengonsumsi putaw. Mulai mengenal putaw pada 1995, Joko mengalami kecanduan dan akhirnya terinfeksi HIV pada 2006.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu yang membuat semangat hidup para pecandu sekaligus pengidap HIV ini runtuh adalah saat lingkungan mengucilkan mereka. Joko mengalaminya sendiri saat seorang sahabat karibnya, tiba-tiba menjauh gara-gara tahu statusnya adalah HIV positif.
"Saya sengaja open status. Bukan apa-apa, kalau open status itu banyak untungnya. Lupa minum obat ARV (Anti Retroviral), ada yang ngingetin. Tapi ya gitu, risikonya dikucilkan," kisah Joko.
Meski mendapat perawatan selama di penjara, tidak bisa dipungkiri rasa khawatir seringkali muncul pada diri Joko. Karenanya, ia sangat berharap bisa diberi kemudahan untuk mengurus PB atau pembebasan bersyarat. Meski cuma divonis 6 tahun bui, Joko yang mengidap HIV positif percaya maut bisa menjemput kapan saja.
"Kan kita nggak pernah tahu. Bilamana nggak sampai waktunya, lalu saya meninggal di sini..," tutur Joko menerawang.
Di samping kisah-kisah pahit, terselip juga kisah-kisah yang membahagiaan. Bagi Joko, salah satu yang membahagiakannya adalah anak-istrinya hingga saat ini tidak tertular HIV. Anaknya, tepat pada hari ini berulang tahun yang ke-10.
"Begitu saya masuk penjara, anak-istri sekalian periksa. Alhamdulillah, dua-duanya negatif. Semoga tidak akan pernah ketularan," harap Joko.
Setiap pertemuan dengan sesama pecandu yang mengidap HIV, Joko dan kawan-kawannya merapal sebuah doa. Isinya adalah harapan tentang masa depan, untuk menumbuhkan semangat hidup meski sampai akhir hayat harus hidup dengan HIV.
Berikut ini Doa Kedamaian yang selalu mereka rapalkan bersama-sama di akhir pertemuan:
Tuhan..
Berikanlah kami kedamaian
untuk dapat menerima hal-hal yang tidak dapat kami ubah
Keberanian
untuk mengubah apa yang dapat kami ubah
Serta kebijaksanaan
untuk mengetahui kedua perbedaannya
Amin..
(up/vit)











































