Dikira Memar Biasa, Ternyata Ada Tumor Langka di Leher Bocah Ini

Dikira Memar Biasa, Ternyata Ada Tumor Langka di Leher Bocah Ini

- detikHealth
Senin, 01 Des 2014 17:18 WIB
Dikira Memar Biasa, Ternyata Ada Tumor Langka di Leher Bocah Ini
(Foto: Amber Carr)
Sydney - Amber belum merasa ada yang aneh ketika menemukan memar sebesar ibu jari orang dewasa di leher putrinya, Hannah Carr. Saat itu usia Hannah baru enam bulan. Tapi ia tak pernah menyangka bila memar itu bukan memar biasa.

"Saya kira suami saya tak sengaja menyakitinya. Saya pun mengatakan kepadanya agar lebih lembut ketika menggendong si kecil," tutur Amber.

Namun ia mulai merasakan keanehan ketika memar itu tidak hilang begitu saja, bahkan hingga seminggu lebih. Takut terjadi apa-apa, Amber dan suaminya, Peter membawa Hannah ke dokter, dan di sana mereka diberitahu bahwa di leher Hannah terdapat sebuah tumor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tumornya seukuran bola tenis dan tumbuh di pembuluh darah leher bocah asal Hornsbly, Sydney itu. "Saya langsung lemas begitu mengetahui itu adalah tumor. Dan tumornya tumbuh dalam semalam, dan tidak berhenti tumbuh," ungkap Amber seperti dikutip dari Daily Mail Australia, Senin (1/12/2014).

Yang tak kalah mengejutkan, tumor di leher Hannah tergolong langka. Saking langkanya, di Australia, pasien tumor yang biasa disebut dengan Kaposiform haemangioendothelioma (KHE) ini hanya ada enam anak saja.

Tak hanya itu, berdasarkan hasil tes yang dilakukan di Westmead Children's Hospital, tim dokter mengarahkan agar Hannah menjalani kemoterapi selama 12 bulan untuk mengempeskan tumor di lehernya. Padahal Hannah juga baru pulang ke rumah setelah menghabiskan tiga bulan pertamanya di rumah sakit karena lahir prematur.

Sayangnya ketika dilakukan prosedur MRI, barulah ketahuan bila itu bukanlah tumor yang bisa sembuh hanya dengan kemoterapi biasa. "Sebab tumornya memiliki semacam tentakel yang melebar hingga ke dadanya, termasuk ke organ-organ vitalnya. Kemoterapi hanya bisa memperlambat pertumbuhan si tumor," kata Amber.

Untuk itu tim dokter menambahkan steroid pada rejim pengobatan Hannah. Sayangnya efek samping dari obat tersebut menyebabkan pipi Hannah menggelembung sebesar balon.

Sembilan bulan kemudian, ukuran tumor di leher Hannah memang berkurang hingga 50 persen. Namun setelah itu, tumor Hannah sama sekali tidak merespons kedua pengobatan tersebut. Tim dokter lantas menyarankan agar Hannah menjalani pengobatan terobosan baru khusus untuk pasien KHE yang selama ini hanya dilakukan di Amerika.

"Ia pasien anak pertama di Australia yang mendapatkan pengobatan ini. Ini begitu menakutkan karena kami belum pernah tahu bagaimana efek sampingnya pada Hannah," tandas Amber.

Beruntung kekhawatiran Amber tidaklah terbukti. Hannah bisa tumbuh hingga usianya mencapai tiga tahun. Tumornya mengecil dan tak ada komplikasi yang ia rasakan, walaupun Hannah harus bergantung pada sejumlah obat-obatan yang harus ia konsumsi setiap hari.

"Tumornya masih ada di sana, meski ukurannya mengecil. Hanya saja kami takkan pernah tahu berapa lama lagi Hannah harus bergantung pada obat ini," tutupnya.

(lil/up)

Berita Terkait