Setidaknya, begitulah menurut Samantha Barbara, chairman Love Pink Indonesia yang juga salah satu survivor kanker payudara. Menurutnya, salah satu kelemahan dari sistem pelayanan kesehatan bagi kanker sekarang ini adalah dokter-dokter yang terlalu sibuk sehingga tak sempat mendengar curhat pasien.
"Setiap pasien kan tentunya berbeda-beda cara menghadapi penyakitnya. Ada yang langsung pasrah, ada yang bingung, ada yang cerewet. Nah peran dokter menurut saya tak hanya sekadar memberikan resep obat dan pasien disuruh pulang," ungkap Samantha.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai seorang survivor sekaligus pengurus organisasi, Samantha mengaku banyak mendengar keluhan soal perbedaan perlakuan yang dihadapi oleh para pasien kanker payudara. Tak hanya oleh dokter, namun juga dari keluarga sendiri, termasuk suami.
Dikisahkan Samantha bahwa ada salah seorang rekannya yang ditalak suami setelah positif didiagnosis mengidap kanker payudara stadium 3. Ia mengatakan bahwa hal ini merupakan bukti bahwa masih sangat sulit mendapatkan dukungan bagi pasien kanker di Indonesia.
"Ini cerita teman saya ya, tak usah disebutkan namanya, begitu suaminya tahu dia kanker payudara langsung ditalak tiga. Coba gimana pasien nggak jadi frustasi dan ingin bunuh diri? Dukungan dari keluarga saja tidak ada," ungkapnya.
Karena itulah ia mengharapkan adanya perubahan soal stigma pasien kanker payudara di masyarakat, terutama di mata kaum lelaki. Dengan adanya dukungan dari keluarga, kualitas hidup pasien dapat terjaga dan risiko untuk menghentikan pengobatan pun berkurang.
"Memang ya mungkin pikirannya kalau sudah terserang kanker payudara istri tidak menarik lagi. Tapi tolong tetap didampingi berobat, karena hal ini sangat berpengaruh terhadap mental pasien, jadi keinginan untuk melawan penyakitnya ada," pungkasnya.
(mrs/vit)











































