Hal tersebut dikatakan para peneliti terjadi karena HIV menyerang imunitas tubuh seseorang dan perlahan kehilangan keefektifannya saat virus berusaha beradaptasi. Lebih dari 35 juta orang di dunia memiliki HIV di dalam tubuhnya terjadi pertempuran antara imunitas tubuh dan virus. Dalam upayanya menyerang imunitas tubuh, HIV secara mudah dan cepat bermutasi untuk beradaptasi.
Akan tetapi, terkadang HIV menginfeksi seseorang dengan imunitas tubuh khusus yang efektif dan kesulitan untuk berkembang. Hal yang juga terjadi pada kasus wabah Ebola di mana beberapa orang tertentu dengan antibodi yang efektif mampu sembuh dari infeksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Konsekuensi yang harus dibayar HIV saat menginfeksi orang dengan imunitas tubuh yang efektif adalah semakin berkurangnya kemampuan untuk mereplikasi. Ini kemudian membuat virus menjadi semakin kurang mematikan dan butuh waktu lebih lama sampai virus bisa menyebabkan AIDS. Virus yang melemah tersebut kemudian menyebar ke orang lain dan akhirnya siklus virus yang lebih lemah dimulai.
"Ini memang menarik. Anda dapat melihat kemampuan virus untuk mereplikasi 10 persen lebih rendah di Botswana daripada virus yang ada di Afrika Selatan," kata Goulder membandingkan HIV di Botswana yang lebih dulu muncul beberapa dekade sebelum ada di Afrika Selatan.
Obat antiretroviral (ARV) yang kini juga tengah digalakkan pemberiannya oleh lembaga-lembaga kesehatan dunia dikatakan oleh Goulder semakin membuat HIV melemah. ARV ditujukan untuk menargetkan HIV yang ganas dan membuatnya semakin jinak.
"Jika dulu AIDS akan berkembang setelah 10 tahun infeksi, kini dalam 10 tahun terakhir virus butuh waktu sampai 12,5 tahun. Semacam perubahan yang bertahap tapi dalam gambaran besar ini adalah perubahan yang cepat. Bayangkan saat waktu yang dibutuhkan semakin memanjang, orang-orang mungkin tidak akan menunjukkan gejala sampai puluhan tahun," tutup Goulder.
(up/up)











































