Meski Maju, Tiongkok Punya 'Simpanan' Kasus Pencemaran Ekstrim

Meski Maju, Tiongkok Punya 'Simpanan' Kasus Pencemaran Ekstrim

- detikHealth
Jumat, 05 Des 2014 20:07 WIB
Meski Maju, Tiongkok Punya Simpanan Kasus Pencemaran Ekstrim
Illustrasi: gettyimages
Jakarta - Industri boleh maju, namun tampaknya kualitas lingkungan di Tiongkok belum terjamin sepenuhnya. Terbukti sering terjadi kasus pencemaran, baik di air, udara maupun tanah di Negeri Tirai Bambu tersebut. Seperti tak ada habisnya.
 
Padahal yang kena batunya tentu penduduk Tiongkok sendiri. Banyak di antara mereka yang mengalami gangguan kesehatan serius karena polusi tersebut. Untuk mengetahui se-ekstrem apa pencemaran lingkungan di Tiongkok, berikut beberapa kasus yang berhasil dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, Jumat (5/12/2014).

1. Polusi udara di Beijing dan kota besar lainnya

Foto: REX
Tiga kota besar di Tiongkok, yaitu Beijing, Guangzhou, dan Shenzen tercatat sebagai kota dengan tingkat polusi udara paling parah di Tiongkok. Hasil pengukuran kualitas udara di sana mencapai angka indeks 160.

Angka ini menunjukkan kualitas udara yang 'tak sehat' dengan jumlah partikel udara super kecil yang dapat terhirup masuk ke paru-paru mencapai 73 mikrogram per meter kubik. Padahal menurut panduan WHO, ukuran standarnya adalah 25 mikrogram per meter kubik.
 
Saking parahnya, pernah dikabarkan seorang anak berumur 8 tahun di Tiongkok telah didiagnosis mengidap kanker paru. Selain itu, ada rumah sakit yang mendirikan klinik khusus untuk para pasien yang menderita gangguan kesehatan akibat polusi udara. Klinik ini terletak di Chengdu No 7 People's Hospital, barat daya Tiongkok. Sejak dibuka, klinik ini menangani rata-rata 12 pasien setiap harinya, dengan gejala yang paling sering dikeluhkan adalah batuk-batuk, tenggorokan gatal, begitu juga asma dan penyakit jantung yang dipicu atau diperburuk oleh asap.
 
Sejumlah warga di Luanchuan County, Provinsi Henan juga berinisiatif menjual udara segar dalam kemasan kaleng. Bahkan untuk menambah jumlah kunjungan turis ke Tiongkok, sebuah perusahaan asuransi menawarkan paket yang disebut 'haze-travel insurance' agar wisatawan bisa tetap merasa nyaman saat berkunjung ke Negeri Tirai Bambu.

2. Air kekurangan selenium di desa Yalong

Foto: Dailymail
20-an penduduk desa Yalong, daerah otonomi Guangxi Zhuang mengidap penyakit aneh. Di tangan dan kaki mereka terlihat benjolan-benjolan yang tumbuh tak beraturan serta melepuh. Sebagian besar penderitanya adalah pria, meskipun ada beberapa orang wanita yang mengalami hal serupa.

Dari pengamatan dokter, tulang-tulang kaki dan tangan para penduduk ini diduga tumbuh dalam kondisi berputar, sehingga dari luar tampak kulit kaki dan tangan mereka menonjol. Bahkan pada beberapa orang, di kulit mereka muncul pustula atau tonjolan kulit berisi nanah, yang terasa menyakitkan.

Setelah melakukan pemeriksaan, tim medis menduga para penduduk desa ini mengidap gangguan langka yang disebut dengan penyakit Kashin-Beck. Kashin-Beck juga biasa disebut dengan 'Penyakit Tulang Besar'. Kondisi ini terjadi karena air dan makanan yang ada di daerah bersangkutan kekurangan kandungan selenium. Kendati begitu, penyebab menurunnya kandungan selenium dalam air di desa ini belum diketahui secara pasti.

3. Keracunan arsenik di desa Heshan

Penutupan tambang arsenik di desa Heshan, Provinsi Hunan pada tahun 2011, meninggalkan duka bagi penduduk setempat. Sebab 200-an penduduk terserang kanker karena air sungai yang mengaliri desa tersebut tercemar arsenik. Debu dan sisa-sisa arsenik juga masih beterbangan di sekitar tambang dan desa, merusak ladang pertanian penduduk hingga terhirup.

Sebagian besar kanker yang ditemukan pada warga merupakan kanker kulit, sisanya seperti kanker serviks dan kanker paru-paru karena arsenik yang terhirup atau tertelan ke dalam tubuh.

4. Keracunan kadmium di desa Sahecun

Foto: Dailymail
Hampir sama dengan kasus yang terjadi di desa Heshan, setelah ditutupnya tambang seng dan timah yang ada di desa tersebut, penduduk setempat mulai mengalami gejala aneh, seperti muncul benjolan menyakitkan di sekujur tangan dan kaki, serta tulang yang terasa nyeri.

Tanpa disadari, sungai dan ladang mereka telah tercemar air yang bocor dari pertambangan. Ahli lingkungan pun dikirim ke desa tersebut, dan mereka memastikan seluruh desa telah tercemar logam. Meskipun telah dilakukan upaya pembersihan, ladang dan sungai selalu kembali tercemar karena air dari tambang kembali dialirkan ke ladang atau sungai oleh hujan.

Salah satu penduduk, Huang Guiqiang (58) mengungkapkan ketika diperiksa ia didiagnosis mengidap keracunan logam kadmium yang sudah parah. Kadmium sendiri merupakan logam beracun yang bisa memberikan efek merusak pada tubuh bila dikandung dalam jumlah besar.

"Kondisi kami diperparah dengan makanan kami. Sebab kami hanya bisa beternak ikan di kolam bekas ladang yang tercemar itu. Tapi kami tak punya pilihan lain, ini satu-satunya sumber makanan kami dan kami tak pindah karena sakit ini," tuturnya.
Halaman 2 dari 5
Tiga kota besar di Tiongkok, yaitu Beijing, Guangzhou, dan Shenzen tercatat sebagai kota dengan tingkat polusi udara paling parah di Tiongkok. Hasil pengukuran kualitas udara di sana mencapai angka indeks 160.

Angka ini menunjukkan kualitas udara yang 'tak sehat' dengan jumlah partikel udara super kecil yang dapat terhirup masuk ke paru-paru mencapai 73 mikrogram per meter kubik. Padahal menurut panduan WHO, ukuran standarnya adalah 25 mikrogram per meter kubik.
 
Saking parahnya, pernah dikabarkan seorang anak berumur 8 tahun di Tiongkok telah didiagnosis mengidap kanker paru. Selain itu, ada rumah sakit yang mendirikan klinik khusus untuk para pasien yang menderita gangguan kesehatan akibat polusi udara. Klinik ini terletak di Chengdu No 7 People's Hospital, barat daya Tiongkok. Sejak dibuka, klinik ini menangani rata-rata 12 pasien setiap harinya, dengan gejala yang paling sering dikeluhkan adalah batuk-batuk, tenggorokan gatal, begitu juga asma dan penyakit jantung yang dipicu atau diperburuk oleh asap.
 
Sejumlah warga di Luanchuan County, Provinsi Henan juga berinisiatif menjual udara segar dalam kemasan kaleng. Bahkan untuk menambah jumlah kunjungan turis ke Tiongkok, sebuah perusahaan asuransi menawarkan paket yang disebut 'haze-travel insurance' agar wisatawan bisa tetap merasa nyaman saat berkunjung ke Negeri Tirai Bambu.

20-an penduduk desa Yalong, daerah otonomi Guangxi Zhuang mengidap penyakit aneh. Di tangan dan kaki mereka terlihat benjolan-benjolan yang tumbuh tak beraturan serta melepuh. Sebagian besar penderitanya adalah pria, meskipun ada beberapa orang wanita yang mengalami hal serupa.

Dari pengamatan dokter, tulang-tulang kaki dan tangan para penduduk ini diduga tumbuh dalam kondisi berputar, sehingga dari luar tampak kulit kaki dan tangan mereka menonjol. Bahkan pada beberapa orang, di kulit mereka muncul pustula atau tonjolan kulit berisi nanah, yang terasa menyakitkan.

Setelah melakukan pemeriksaan, tim medis menduga para penduduk desa ini mengidap gangguan langka yang disebut dengan penyakit Kashin-Beck. Kashin-Beck juga biasa disebut dengan 'Penyakit Tulang Besar'. Kondisi ini terjadi karena air dan makanan yang ada di daerah bersangkutan kekurangan kandungan selenium. Kendati begitu, penyebab menurunnya kandungan selenium dalam air di desa ini belum diketahui secara pasti.

Penutupan tambang arsenik di desa Heshan, Provinsi Hunan pada tahun 2011, meninggalkan duka bagi penduduk setempat. Sebab 200-an penduduk terserang kanker karena air sungai yang mengaliri desa tersebut tercemar arsenik. Debu dan sisa-sisa arsenik juga masih beterbangan di sekitar tambang dan desa, merusak ladang pertanian penduduk hingga terhirup.

Sebagian besar kanker yang ditemukan pada warga merupakan kanker kulit, sisanya seperti kanker serviks dan kanker paru-paru karena arsenik yang terhirup atau tertelan ke dalam tubuh.

Hampir sama dengan kasus yang terjadi di desa Heshan, setelah ditutupnya tambang seng dan timah yang ada di desa tersebut, penduduk setempat mulai mengalami gejala aneh, seperti muncul benjolan menyakitkan di sekujur tangan dan kaki, serta tulang yang terasa nyeri.

Tanpa disadari, sungai dan ladang mereka telah tercemar air yang bocor dari pertambangan. Ahli lingkungan pun dikirim ke desa tersebut, dan mereka memastikan seluruh desa telah tercemar logam. Meskipun telah dilakukan upaya pembersihan, ladang dan sungai selalu kembali tercemar karena air dari tambang kembali dialirkan ke ladang atau sungai oleh hujan.

Salah satu penduduk, Huang Guiqiang (58) mengungkapkan ketika diperiksa ia didiagnosis mengidap keracunan logam kadmium yang sudah parah. Kadmium sendiri merupakan logam beracun yang bisa memberikan efek merusak pada tubuh bila dikandung dalam jumlah besar.

"Kondisi kami diperparah dengan makanan kami. Sebab kami hanya bisa beternak ikan di kolam bekas ladang yang tercemar itu. Tapi kami tak punya pilihan lain, ini satu-satunya sumber makanan kami dan kami tak pindah karena sakit ini," tuturnya.

(lil/ajg)

Berita Terkait