Asih, salah satu petugas Puskesmas Bidara Cina III menuturkan bahwa kegiatan penyuluhan dan rapat koordinasi dengan para kader posyandu dilakukan setiap bulan di minggu kedua. Hal ini dimaksudkan agar para kader posyandu lebih semangat untuk datang ke rakor dan penyuluhan.
"Ya namanya ibu-ibu kan. Jadi kita rakor dulu, penyuluhan ketika sudah selesai baru arisan. Kalau ada arisannya kan ibu-ibunya jadi lebih semangat gitu," ungkap Asih kepada detikHealth ketika ditemui di Puskesmas Kelurahan Bidara Cina III, JL Tanjung Lengkong, Bidaracina, seperti ditulis Rabu (10/12/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asih menjelaskan kepada para kader bahwa Puskesmas Bidara Cina III hanya dapat memberikan rujukan ke tiga rumah sakit yang ada di Jakarta Timur yakni RS Pasar Rebo, RS Budi Asih serta RS Duren Sawit. Pihak Puskesmas dikatakannya tidak berwenang untuk mengeluarkan rujukan ke rumah sakit lain selain tiga rumah sakit tersebut.
"Jadi nanti ibu-ibu tolong disebarkan kepada warga, jangan datang ke Puskesmas lalu minta dirujuk ke RS UKI atau RS lain hanya gara-gara punys BPJS. Kami bekerja sesuai peraturan dan memang begitu peraturannya," tutur Asih.
Asih menjelaskan mengapa sosialisasi terkait sistem rujukan sangat penting dilakukan. Dikatakannya bahwa banyak warga yang penyakitnya hanya batuk pilek sering minta dirujuk ke RS besar. Padahal penyakit tersebut bisa ditangani oleh Puskesmas.
Padahal menurut Asih, hal tersebut justru mengganggu kelancaran pelayanan di rumah sakit. Tak jarang pasien yang sebenarnya butuh penanganan di rumah sakit tak mendapat tempat karena rumah sakit penuh oleh pasien yang seharusnya bisa dilayani ke Puskesmas.
"Jadi memang mereka punya BPJS, dan berpikirnya mumpung gratis mintalah berobat ke RS. Padahal di kita juga bisa ditangani. Nanti kalau rumah sakit penuh, kita juga yang disalahkan kenapa merujuk pasien batuk pilek ke rs. Padahal kita sudah larang hanya pasiennya saja yang ngotot," ungkapnya.
(mrs/up)











































