Diungkapkan dr Akira Prayudianto SpA dari RSAB Harapan Kita, angka kematian neonatus (bayi di bawah 1 bulan) di negara berkembang 20-60 persen disebabkan infeksi. Data di RSAB Harapan Kita selama lima tahun terakhir menunjukkan khususnya di Jakarta infeksi menyebabkan kematian pada bayi sebanyak 20-30 persen .
"Bayi berbeda dengan orang tua. Kena infeksi, dia bisa kena meningitis dan jadi beban bagi orang tua. Nah, setelah memasukkan upaya preventif dengan cuci tangan pakai sabun dalam pengasuhan bayi, jumlahnya turun jadi 2,3 persen," terang dr Akira.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prinsipnya, dikatakan dr Akira, mencuci tangan yakni menggosok air dengan sabun bersama-sama pada seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan ringkas lalu dibilas di bawah air yang mengalir. Dengan begitu, kuman, virus, jamur, bahkan cacing-cacing yang bersembunyi di tangan bisa mati.
"Berdasarkan Riskesdas 2013, insiden dan prevalensi pneumonia di Indonesia yaitu 1,8 persen dan 4,5 persen. Insiden dan prevalensi diare 3,5 persen dan 7 persen. Setelah mempraktikkan CTPS seperti rekomendasi WHO, prevalensi diare bisa turun sampai 47 persen," lanjut dokter berkacamata itu.
Di Indonesia, terdapat sekitar 250.000 sekolah dengan jumlah anak sekolah 30 persen atau sekitar 73 juta orang. Nah, jika CTPS dibudayakan, jumlah anak yang diare bisa diturunkan sampai separuhnya, demikian diutarakan dr Akira. Dengan begitu, absensi anak yang umumnya disebabkan penyakit infeksi pun dapat diminimalisir.
(rdn/vit)










































