Teknologi bayi tabung yang kini mulai dikenal banyak masyarakat menggunakan teknologi kedokteran untuk mempertemukan langsung sperma dengan telur di luar tubuh. Tindakan ini dikatakan dokter dapat menjadi pilihan terakhir pasangan yang sudah melakukan berbagai cara untuk hamil namun belum berhasil.
"Bayi tabung itu dilakukan kalau faktor sperma tidak normal misal bentuk,gerakan, dan jumlahnya ada kelainan. Terus juga dilakukan kalau ada sumbatan di kedua saluran telur jadi sperma dan telurnya itu enggak akan bisa bertemu di dalam harus dibantu di luar," kata konsultan Fertility RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Budi Wiweko, SpOG(K), ditemui di Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ada kista ya pilihannya cuma 2, mau dioperasi pengangkatan kista atau bayi tabung. Cairan kista itu sangat beracun bagi sperma yang kalau kena bisa bikin mereka keok," tambah dr Budi.
Tanda-tanda seorang wanita memiliki kista di rahimnya dikatakan dr Budi adalah rasa sakit berhari-hari saat menstruasi. Sakit menstruasi yang normal hanya muncul pada hari pertama, namun jika rasa sakit terus muncul sepanjang periode haid perlu diwaspadai adanya kista.
dr Budi menyarankan pasangan yang telah menikah selama 1 tahun lebih dan berhubungan seksual rutin tanpa kontrasepsi tapi belum punya anak dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter. Lewat pemeriksaan tersebut, dokter dapat mengetahui penyebab ketidaksuburan dan menentukan apakah tindakan bayi tabung tepat dilakukan.
(up/up)










































