Sukses Atasi Malaria, Pangandaran Kini Terancam DBD

Sukses Atasi Malaria, Pangandaran Kini Terancam DBD

- detikHealth
Rabu, 17 Des 2014 07:39 WIB
Sukses Atasi Malaria, Pangandaran Kini Terancam DBD
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Berada di tepi pantai dan banyak daerah rawa membuat Kabupaten Pangandaran menjadi daerah endemis malaria. Namun seiring perkembangan zaman dan penanganan yang dilakukan, malaria kini sudah bukan jadi masalah lagi.

Kepala Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Pangandaran, Lukman Hakim, mengatakan bahwa loka litbang vektor nyamuk ini didirikan untuk menanggulangi malaria yang mewabah di Pangandaran tahun 1990-an hingga 2000-an awal. Namun sejak tahun 2007, penelitian loka litbang ini dialihkan lebih kepada demam berdarah dengue (DBD).

"Jadi dulu malaria di sini memang ganas. ‎Karena banyak rawa yang jadi habitat nyamuk anopheles. Nyamuk Aedes aegypti nggak cocok. Bisa dikatakan sudah nol kasusnya dalam beberapa tahun terakhir," ungkap Lukman, seperti ditulis pada Rabu (17/12/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi seiring dengan perkembangan zaman, Pangandaran makin banyak penduduk, makin banyak rumah yang jadi habitat Aedes. Nah makanyanya kasus DBD juga makin banyak," tambahnya lagi.

Endang Pudjiastuti, Kepala Bidang Pelayanan Pelitian Loka Litbang P2B2, mengakui bahwa memang pertambahan penduduk menjadi salah satu faktor angka DBD Pangandaran meningkat, sementara angka malaria menurun.

"Jadi kan anopheles senang di rawa-rawa, tapi sekarang rawa-rawanya ditutup kan, diuruk jadi lahan buat rumah, buat bangunan, buat hotel. Nah Aedes yang habitatnya di air bersih jadi meningkat jumlahnya," tandasnya.

‎Meski begitu, bukan berarti Kabupaten Pangandaran bebas dari malaria. Dijelaskan oleh dr Lukman bahwa malaria, terutama malaria vivax masih mengancam. Malaria vivax menyerang organ liver manusia, dan virusnya dapat mengendap bertahun-tahun dan sewaktu-waktu menyerang ketika pengidapnya sedang dalam keadaan lemah.

‎"Memang tadi saya katakan nol, dalam artian angka kejadian kasusnya. Tapi banyak yang masih mengendap virusnya atau mati suri, dan masih bisa menyerang lagi ketika daya tahan tubuh lemah. Makanya masyarakat harus tetap waspada," pungkasnya.

(mrs/up)

Berita Terkait