Rabu, 17 Des 2014 14:48 WIB

Kaleidoskop Januari 2014

Ayah Sakit Gula, Anak SMP Temukan Serbuk Penurun Gula Darah

- detikHealth
Gita Adinda Nasution (Foto: Tohari/detikHealth)
Jakarta -

Konon diabetes mellitus (DM) atau lebih dikenal dengan sakit gula tak dapat disembuhkan, kecuali bila si pasien mengubah gaya hidupnya. Namun di pertengahan Januari 2014, media nasional dikejutkan dengan munculnya obat diabetes temuan anak sekolah dari Medan.
 
Obat herbal berbentuk serbuk itu diberi nama Kolagit, singkatan dari Kopi Gula Gita. "Karena rasanya seperti kopi," kata sang penemu, Gita Adinda Nasution saat ditemui di Medan.
 
Hebatnya, Gita menemukan obat itu saat ia masih tercatat sebagai seorang siswi kelas tiga SMP. Gagasan untuk membuat obat ini muncul ketika ia mengetahui sang ayah, Bisman Nasution didiagnosis menderita diabetes. Saat itu Gita masih duduk di kelas enam SD.
 
Gita semakin prihatin ketika melihat penglihatan ayahnya memburuk, cara jalannya terhuyung-huyung berikut gangguan fungsi organ lainnya. Sementara berbagai obat dan terapi yang dicobanya tak kunjung membuahkan hasil. Padahal ibunya, Lismawati juga telah menerapkan diet ketat untuk sang suami agar gula darahnya tetap stabil.

Tak mau tinggal diam, Gita pun tekun membaca berbagai buku tentang tanaman obat, terutama buku tentang pengobatan berbasis ramuan tradisional karya Hembing Wijayakusuma. Ia ingin membuat obat dari tanaman untuk menyembuhkan sang ayah, hanya saja ia belum tahu tanaman apa yang tepat.
 
Hingga tiba-tiba Gita teringat dengan vaksin polio. Vaksin ini sejatinya merupakan modifikasi dari virus penyebab polio itu sendiri. Dari situ ia bertanya-tanya, apakah diabetes bisa disembuhkan dengan gula. "Lalu saya coba-coba dari tebu," ucapnya.

Melalui tahapan proses yang dirahasiakan, Fita berhasil membuat serbuk yang bahan utamanya dari tebu. Warnanya cokelat gelap. "Vaksinnya dari tebu. Tapi ada tambahan senyawa-senyawa lain. Menghilangkan unsur ini, atau menambah unsur yang itu, sehingga menjadi senyawa baru," terang Gita.

Gita menambahkan, ia sengaja membuatnya dalam bentuk serbuk karena pasien diabetes biasanya mengalami penurunan fungsi organ, sehingga sediaan ini dirasa lebih mudah dikonsumsi dan khasiatnya juga lebih cepat dirasakan oleh pasien, bila dibandingkan sediaan kapsul atau pil.
 
Setelah jadi, ramuan baru racikan anak ketiga dari empat bersaudara itu langsung diberikan kepada ayahnya. Waktu itu belum ada nama, dan belum ada uji praklinis. Toh menurut Gita, obat herbal minim risiko.

Dalam waktu setahun, kondisi ayahnya membaik. Sayangnya, sang ayah yang benci jarum suntik tak pernah lagi memeriksakan gula darahnya. Namun karena akan menunaikan ibadah haji di tahun 2012 silam, mau tak mau ia pun harus menjalani tes kesehatan. Barulah ketahuan bila hasil tes gula darahnya normal.

Dari sini Kolagit pun berkembang. Rekan-rekan sang ayah yang sakit gula juga meminta obat tersebut, dan merasakan kesembuhan. Karena banyak permintaan, akhirnya Gita melakukan produksi dalam skala cukup besar, meskipun berbasis rumahan. Pemesannya tak hanya dari Sumut saja, tapi hingga ke Jakarta, Kalimantan, bahkan 'diekspor' ke Arab Saudi.

Sejauh ini Kolagit hanya dipasarkan lewat situs jejaring sosial Facebook, dan dibanderol dengan harga Rp 150 ribu untuk satu bungkus (800 gram). Satu bungkus ini untuk dikonsumsi selama satu bulan. Namun Gita menjamin harganya tidak baku, tetapi bisa bisa dikurangi untuk orang-orang yang kehidupannya pas-pasan, bahkan gratis untuk kalangan tidak mampu.

"Saya tak berani juga bilang Kolagit itu menyembuhkan, melainkan penghambat. Tetapi ada perbaikan pada fungsi pankreas maupun ginjal dan lambung," ucap Gita. Namun Gita memastikan, serbuk herbal ini dapat menurunkan gula darah. Selain itu, berdasarkan laporan dari pengguna, penyakit ikutan yang biasanya diderita pengidap diabetes cenderung hilang setelah meminum obat itu, seperti maag, kolesterol, dan darah tinggi.
 
Temuan ini juga mendapat penghargaan dalam pameran Teknologi Tepat Guna 2013 yang diselenggarakan Unit Pembinaan Pengembangan Kegiatan Mahasiswa (UP2KM) USU pada 4 Desember 2013 lalu. Kolagit temuan Gita menyabet juara pertama.

Mahasiswi jurusan Analis Farmasi dan Makanan, Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU) itu kini tengah menunggu paten untuk Kolagit buatannya.

(lil/vit)