"Saat ini diperlukan pendekatan individualisasi dalam tatalaksana diabetes, di mana pasien harus dilihat secara perorangan. Semua tatalaksana yang dilakukan juga harus disesuaikan dengan latar belakang masing-masing pasien," ungkap Kepala Divisi Endokrinologi Departemen Penyakit Dalam FKUI-RSCM, dr Em Yunir, SpPD-KEMD.
Menurut dr Yunir, sebagian besar kasus diabetes sebenarnya bisa ditangani di puskesmas, misalnya cukup dengan pemberian satu atau dua obat kombinasi. Namun memang suatu saat kadang pasien perlu dirujuk untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalu juga kalau sudah ada komplikasi-komplikasi yang muncul, termasuk komplikasi yang kompleks. Atau bisa juga kalau pasien sering hipoglikemia (kadar gula darah rendah). Ini tidak bisa dihindari, harus dirujuk ke rumah sakit," lanjut dr Yunir dalam jumpa pers yang diadakan di Shangri-La Hotel, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Jumat (19/12/2014).
Namun faktanya sebagian besar pasien diabetes yang masuk dalam fase perawatan sudah disertai dengan komplikasi, kebanyakan komplikasi pada mata, saraf, ginjal dan kaki.
"Diabetes itu penyakit gula. Tapi pasiennya kebanyakan meninggal bukan karena gula darahnya yang tinggi, tapi karena komplikasinya," imbuh dokter penyakit dalam dari RSCM-FKUI, dr Dante S. Herbuwono, SpPD-KEMD, PhD.











































