Kini sekelompok peneliti dari Australia berhasil membuktikan adanya perubahan fisik yang terjadi saat seseorang secara harfiah ikut merasakan penderitaan orang lain.
Ahli psikologis dari Monash University, Dr Melita Giummarra, mengatakan kondisi tersebut terjadi pada 20 - 30 persen populasi dunia dengan empati yang ekstrem. Dalam penelitian yang telah dipresentasikan di Kongres Dunia Rasa Sakit ke-15 di Argentina, Giummara dan rekan-rekannya meneliti 20 wanita yang hampir setengahnya dilaporkan bisa merasakan sakit orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi dilakukan dengan para responden diperlihatkan cedera di bagian seperti kepala, pergelangan kaki, lutut, dan tungkai kaki sambil dipasangkan alat electrocardiogram (EKG) untuk mengukur detak jantung. Hasilnya pada mereka yang mengaku bisa merasakan sakit orang lain detak jantungnya mengalami peningkatan tajam yang lama, sementara wanita lainnya detak jantung mereka meningkat hanya sebentar saja.
Para responden dengan empati tinggi mengaku mereka mengalami rasa nyeri yang 'tumpul' saat melihat film. Giummarra mengatakan reaksi yang diperlihatkan oleh jantung orang dengan empati yang ekstrem tersebut sama seperti orang yang mengalami cedera.
Peneliti mengatakan dari bukti-bukti yang ditunjukkan pada studi, ada kemungkinan sistem saraf parasympathetic orang dengan empati ekstrem berbeda dari orang biasa.
Saraf parasympathetic adalah sistem saraf yang bertanggung jawab merangsang tubuh saat melihat sesuatu yang tidak menyenangkan atau berbahaya.
"Saat kita melihat orang kesakitan tubuh akan terangsang dan kita biasanya dapat merasakan semacam sensasi yang tidak menyakitkan. Sensasi tersebut tapi hanya sebentar karena kita memiliki penghambat rangsangan di sistem saraf," papar Giummarra.
"Orang yang bisa merasakan sakit orang lain kemungkinan tidak memiliki penghambat ini. Rangsangan di tubuhnya akan tetap ada yang mungkin bisa memicu persepsi rasa sakit," pungkasnya.











































