Tinggal Tempel, Koyo Ini Diklaim Stop Kejang karena Alergi Kacang

Tinggal Tempel, Koyo Ini Diklaim Stop Kejang karena Alergi Kacang

- detikHealth
Senin, 22 Des 2014 15:10 WIB
Tinggal Tempel, Koyo Ini Diklaim Stop Kejang karena Alergi Kacang
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Paris - Hanya ada satu cara untuk mencegah munculnya reaksi kejang atau gatal-gatal akibat alergi, yakni menghindari si biang alergi alias alergen. Namun tak perlu repot, ilmuwan Prancis mengklaim tengah mengembangkan koyo khusus untuk meredakannya.
 
Koyo yang hanya diperuntukkan bagi pengidap alergi kacang ini dikembangkan sebuah perusahaan bioteknologi asal Prancis, yang bernama DBV Technologies. Mereka mengklaim koyo ini dapat menghentikan segala jenis reaksi fatal akibat alergi pada kacang.

Lantas bagaimana cara kerjanya? Seperti halnya vaksin, koyo tersebut dirancang khusus agar dapat memapari permukaan kulit si penderita dengan alergennya, yakni kacang. Alergen yang dipaparkan ke kulit hanya dalam jumlah kecil.

Sebab peneliti meyakini bahwa menempelkan alergen ke kulit dalam jumlah kecil seperti ini akan mengaktifkan sistem imun si penderita tanpa perlu takut alergen masuk ke aliran darah, seperti halnya ketika dimakan lalu mengakibatkan reaksi fatal, yakni shock anafilaktik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bila digunakan dalam jangka waktu tertentu, lama-kelamaan akan makin banyak yang 'diperkenalkan' ke tubuh, dan sistem imunnya jadi makin terbiasa dengan alergennya," terang peneliti seperti dikutip dari Reuters, Senin (22/12/2014).
 
DBV Technologies berharap koyo ini bisa segera dilempar ke pasaran mulai tahun 2017. Namun sebelumnya mereka baru akan melakukan percobaan klinis dengan melibatkan pasien dalam skala besar di tahun 2016.
 
Di samping koyo untuk penderita alergi kacang, DBV ternyata juga mengembangkan koyo untuk penderita alergi susu dan tungau yang seringkali dikira sebagai alergi debu.

Sepakat, dr Indra G Mansur, SpAnd, ILS sebelumnya juga mengatakan, satu-satunya cara aman untuk mencegah munculnya reaksi alergi adalah dengan menghindari alergen itu sendiri.

"Alergi hanya bisa dicegah. Kalaupun bisa diobati sifatnya sementara, untuk meminimalisir reaksi. Pengobatan untuk alergi sendiri yang masih berjalan yaitu sensitisasi," kata dr Indra ketika dihubungi detikHealth beberapa waktu lalu.

Spesialis alergi dari Klinik Imunologi & Kesehatan Reproduksi Sayyidah Pondok Kelapa Jakarta ini menjelaskan bahwa metode sensitisasi dilakukan dengan cara mengenalkan pemicu alergi secara perlahan dan bertingkat. Artinya, dipaparkan langsung dan semakin lama semakin banyak zatnya.

(lil/vit)

Berita Terkait