"Jam 22.50 WIB, meletus. Asap tebal setinggi 3000 meter. Tidak ada suara," jelas Kabid Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api PVMBG Bandung, Gede Swastika, yang berada di lokasi kepada detikcom.
Sebelumnya status gunung yang terletak di perbatasan Kediri, Blitar dan Kabupaten Malang ini sempat ditetapkan menjadi Awas atau level IV pada pukul 22.15 Wib. Namun tak berapa lama kemudian, gunung ini pun meletus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pengamatan, DI Yogyakarta merupakan wilayah di Pulau Jawa yang terkena dampak abu vulkanik paling parah, di samping Jawa Timur bagian barat. Hampir seluruh wilayah di Yogyakarta tertutup abu vulkanik yang cukup pekat dengan ketebalan diperkirakan lebih dari 2 cm. Bahkan ini melebihi ketebalan abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010.
Kendati begitu, sebagian besar warga Yogyakarta tidak panik karena mempunyai pengalaman ketika menghadapi erupsi Gunung Merapi. Warga dinilai cepat tanggap dalam mengantisipasi kondisi tersebut, antara lain dengan mengenakan masker. Tak heran, pada Kamis (14/2) pagi, stok masker di beberapa apotek dan puskemas telah dinyatakan habis.
Namun hal ini direspons dengan cepat oleh Dinas Kesehatan setempat, dibantu oleh sejumlah rumah sakit di Yogyakarta seperti RSUP Dr Sardjito, dan berbagai lembaga kemanusiaan yang ada di kota pelajar tersebut, mereka membagikan lebih dari 20 ribu masker secara cuma-cuma kepada masyarakat, terhitung mulai Kamis (14/2).
Dari laporan Dinas Kesehatan DIY terungkap bahwa sebanyak 1.315 orang warga Yogyakarta terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pasca hujan abu Gunung Kelud. Sebagian di antaranya mengalami iritasi di mata dan tenggorokan.
"Seluruh DIY hingga jam 15.00 yang terkena ISPA sebanyak 1.315 orang," kata Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr Arida Oetami, MKes.
Sedangkan warga yang mengalami iritasi mata sebanyak 165 orang dan radang tenggorokan 115 orang. Untuk yang mengalami kecelakaan sebanyak 44 orang. "Dua orang meninggal dunia yakni di Jalan Wates dan satu orang warga terjatuh saat membersihkan genting," katanya.
Hal yang sama juga ditemukan di wilayah yang berada di sekitar Gunung Kelud, terutama di pengungsian. Sebagian besar warga yang mengungsi terserang batuk, gangguan pernapasan dan iritasi mata. Korban meninggal juga ditemukan di Karesidenan Kediri dan Malang, kebanyakan karena dampak tidak langsung dari letusan gunung yakni tertimpa bangunan.
DirJen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof Tjandra Yoga Aditama dalam siaran persnya mengatakan iritasi mata akibat debu vulkanik tergolong serius karena debu tersebut mengandung beberapa unsur logam.
"Unsur-unsur logam yang perlu diwaspadai terutama adalah Silica, yang secara fisik berupa butiran kecil dan sangat tajam, sehingga bila terhirup akan menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Akibat lebih serius bisa batuk-batuk, bahkan bisa iritasi berat pada saluran pernapasan," terangnya.
Logam lain yang bisa terkandung dalam debu vulkanik umumnya adalah natrium, kalsium dan kalium. Bila ini tercampur dengan debu dan terhirup oleh manusia, maka juga akan menyebabkan iritasi.
(lil/ajg)











































