Psikolog Ini Cemas Anak Hiperaktif Lebih Sering Diberi Obat daripada Terapi

Psikolog Ini Cemas Anak Hiperaktif Lebih Sering Diberi Obat daripada Terapi

- detikHealth
Selasa, 23 Des 2014 13:33 WIB
Psikolog Ini Cemas Anak Hiperaktif Lebih Sering Diberi Obat daripada Terapi
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan kepribadian di mana anak sulit untuk fokus pada satu hal tertentu. Biasanya, anak-anak ini lebih suka melakukan kegiatan fisik, tidak bisa diam, dan cepat bosan.

Vivian Hill, Direktur Fakultas Pendidikan Psikologi dari University College London Institute of Education mengaku cemas dengan tren pengobatan pada anak ADHD belakangan ini. Penelitian yang dilakukannya menemukan bahwa anak dengan ADHD lebih sering mendapat resep obat daripada terapi oleh pakar.

"Satu dari lima psikolog langsung meresepkan obat ketika mendapat pasien anak dengan ADHD tanpa menganjurkan terapi perilaku dan dukungan bagi orang tua. Ini sangat mengkhawatirkan," tutur Hill, dikutip dari Daily Mail, Selasa (23/12/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekhawatiran timbul karena obat-obatan tersebut juga diberikan kepada pasien yang berusia di bawah dua tahun. Menurut Hill, ada risiko pemberian obat tersebut menimbulkan masalah bagi pasien di kemudian hari.

Ditambahkannya bahwa kecenderungan langsung meresepkan obat tanpa melalui terapi ini biasanya dilakukan kepada pasien anak-anak dengan kasus yang sangat parah. Hanya saja penelitian yang dilakukannya tak bisa membuktikan mengapa makin banyak anak diresepkan obat daripada terapi.

"Kami tidak tahu, apakah gangguan ADHD yang terjadi semakin parah atau orang tua dan tenaga kesehatan semakin malas melakukan terapi dan hanya ingin hasil instan? Yang kami yakini adalah ada risiko yang mengancam dengan memberikan obat kepada pasien usia dini," paparnya.

The National Institute for Clinical Excellence, pembuat peraturan bagi tenaga kesehatan di Inggris, mengatakan bahwa pemberian obat tidak direkomendasikan bagi pasien ADHD yang berusia di bawah lima tahun.

Namun survei dari British Psychological Society’s Division of Educational and Child Psychologists mengatakan bahwa 22 persen responden tahu bahwa mereka memberikan obat ke pasien anak-anak dan melanggar peratauran NICE.

(mrs/vit)

Berita Terkait