Begini Proses Trauma Healing dalam Musibah Hilangnya AirAsia

Dampak Psikis Hilangnya AirAsia

Begini Proses Trauma Healing dalam Musibah Hilangnya AirAsia

- detikHealth
Senin, 29 Des 2014 16:50 WIB
Begini Proses Trauma Healing dalam Musibah Hilangnya AirAsia
Jakarta - Saat ini sekitar 50 tenaga psikolog diperbantukan di ruang Crisis Center, Terminal 2 Bandara Juanda, Surabaya. Mereka berusaha untuk memberikan terapi trauma healing kepada para keluarga korban hilangnya pesawat AirAsia QZ8501.

Apa itu sebenarnya terapi trauma healing dan apa yang dilakukan di dalamnya?

Trauma healing, dikatakan oleh Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, MHPEd, dari RS Pluit Jakarta, diberikan untuk mempercepat proses penyembuhan trauma. Kehilangan seseorang dicintai menurut Rosdiana adalah suatu hal yang dapat membuat trauma terlebih jika terjadi seperti kasus dengan pesawat Air Asia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ditinggal seseorang itu kan sebetulnya trauma paling berat yang pertama, jauh levelnya dibandingkan kehilangan pekerjaan atau harta benda. Orang sakit lama aja terus meninggal kita masih bisa trauma luar biasa, apalagi yang kaya gini yang mau pergi liburan tau-tau tidak ada," ujar Rosdiana yang akrab disapa Diana ketika dihubungi oleh detikHealth pada Senin (29/12/2014).

Saat mengalami trauma, Diana menjelaskan seseorang akan mengalami beberapa tahapan sampai akhirnya ia bisa menerima keadaan. Psikolog yang memberikan terapi trauma healing bertugas untuk membantu untuk melalui tahapan-tahapan tersebut dengan cepat.

Orang mungkin awalnya bisa merasa tidak terima dengan kenyataan, kemudian marah. Diana mengadakan trauma healing pada tahap awal kasus ini diberikan untuk menenangkan para keluarga korban.

"Kalau untuk yang keluarga biasanya pemberian psikologi itu penanganan grieving, untuk orang-orang yang berduka karena mereka kehilangan orang-orang terdekat dengan tragis," ujar Diana.

Peluapan emosi dikatakan oleh Diana adalah hal yang penting karena dengan melakukan hal tersebut, seseorang sebenarnya sedang berupaya untuk mengendalikan emosinya. Psikolog saat itu akan memberikan dukungan dengan mendengarkan keluhan para keluarga korban.

"Pendampingan paling efektif itu saat ini tidak perlu apa-apa cuma butuh teman untuk cerita. Jadi itu fungsi yang sebenarnya diperlukan dari pendamping," kata Diana.

Baru setelah kondisi tenang, terapi lain seperti terapi cognitive behavior, hipnoterapi, atau jenis terapi lainnya dapat dilakukan.

(up/up)

Berita Terkait