Menkes Nila Tak Ingin Dokter Rehabilitasi Medik Hanya Jadi 'Tukang Pijat'

Menkes Nila Tak Ingin Dokter Rehabilitasi Medik Hanya Jadi 'Tukang Pijat'

- detikHealth
Selasa, 30 Des 2014 14:03 WIB
Menkes Nila Tak Ingin Dokter Rehabilitasi Medik Hanya Jadi Tukang Pijat
Jakarta -

Rehabilitasi ‎medik merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang sering terlupakan. Padahal fungsi pelayanan rehabilitatif tak kalah penting dari pelayanan kuratif atau penyembuhan, promotif dan preventif atau pencegahan.

Untuk itu, Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek, SpM(K) menginginkan adanya peningkatan sosialisasi soal pelayanan rehabilitatif. Menkes Nila mengatakan bahwa peningkatan perlu dilakukan agar dokter-dokter rehabilitasi medik lagi dianggap sebagai 'tukang pijat'.

"Karena di kita ini pelayanannya masih terfokus kepada kuratif atau penyembuhan," tutur Menkes Nila dalam audiensi dengan perwakilan dari Yayasan Paru Sehat Indonesia, di Gedung Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Padahal rehabilitatif penting misalnya untuk pasien stroke atau pasien PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) supaya mereka bisa kembali berjalan dan beraktivitas seperti biasa, jadinya dokter-dokter rehabilitasi medik tak hanya dianggap sekedar tukang pijat saja," lanjut Menkes Nila.

Ditambahkan, salah satu penyebab mengapa pelayanan rehabilitatif kurang populer adalah pola pikir masyarakat yang masih bergantung pada pelayanan kuratif. Akibatnya, pelayanan rehabilitatif hanya dianggap pelayanan penunjang dan tidak penting.

"Padahal pelayanan rehabilitatif itu manfaatnya besar sekali. Cuma masyarakat kita masih terpaku pada kuratif karena minum obat sembuh, jadinya rehabilitatif hanya sebagai penunjang," ungkap Menkes Nila lagi.

dr Irma Ruslina Defi, SpKFR, PhD, Ketua Dewan Pembina Yayasan Paru Sehat Indonesia, mengakui bahwa memang pelayanan rehabilitatif kurang populer. Sebabnya, dibutuhkan peran serta pasien dan keluarga pasien untuk memastikan rehabilitasi berjalan maksimal.

"Sementara kalau kuratif kan hanya minum obat, lalu sembuh. Kalau rehabilitatif kan mereka harus datang dengan pendamping, pasien juga harus gerak badannya, harus inisiatif. Mungkin gara-gara itu ya," ungkapnya.

(mrs/up)

Berita Terkait