Ini Manfaat Rehabilitasi Medis Bagi Pasien Penyakit Kronis

Ini Manfaat Rehabilitasi Medis Bagi Pasien Penyakit Kronis

- detikHealth
Selasa, 30 Des 2014 15:32 WIB
Ini Manfaat Rehabilitasi Medis Bagi Pasien Penyakit Kronis
Jakarta - Layanan rehabilitasi medi‎k masih kurang populer di Indonesia. Ada yang menganggap rehabilitasi medik hanya penunjang, bahkan tak sedikit yang mengatakan fungsinya hanya sebagai tukang pijat.

dr Irma Ruslina Defi, SpKFR, PhD, dari divisi Kesehatan Fisik dan Rehabilitasi Medik RS Hasan Sadikin Bandung, mengatakan bahwa banyak manfaat yang didapat dengan melakukan rehabilitasi medis, terutama pada pasien penyakit kronis.

"PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) misalnya. Ketika rehabilitasi kita ajarkan bagaimana teknis bernapas ketika sesak napas menyerang, yaitu tarif nafas dalam-dalam lewat hidung dan keluarkan lewat mulut," tutur dr Irma kepada detikHealth, ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya soal teknik bernapas, pasien juga dibekali pengetahuan soal gaya hidup sehat. Dengan begitu, angka kekambuhan penyakit akan berkurang dan beban rumah sakit dalam jumlah pasien pun juga akan berkurang.

Pada penyakit lain seperti stroke, pasien diberikan terapi agar mampu kembali menggerakkan tubuhnya. Hal ini bertujuan mengembalikan fungsi motorik pasien, meskipun tak sampai 100 persen.

Hal lain yang tak kalah penting adalah pemasangan kaki atau tangan palsu. Dengan menjalani rehabilitasi, pasien dapat berlatih terlebih dahulu sehingga ke depannya, tidak ada kesulitan atau komplikasi lain muncul.

"Karena kan tidak semuanya bisa langsung pakai kaki atau tangan palsu. Pasien dilatih sehingga ketika sudah menggunakan tak lagi canggung dan menemui kesulitan," ungkap dr Irma.

Penyandang disabilitas juga diketahui merupakan penerima manfaat terbesar dalam pelayanan rehabilitasi medik. Sebabnya pelatihan yang diberikan tak hanya kepada pasien, namun juga kepada keluarga dan pendamping.

"Jadi mungkin memang kita hanya dikenalnya sebagai tukang pijat ya. Padahal manfaat yang diterima sangat luas. Masalahnya ya itu tadi, masih sedikit informasi yang didapat masyarakat soal rehabilitas medik," pungkas dokter yang juga ketua Dewan pembina Yayasan Paru Sehat Indonesia ini.

(mrs/up)

Berita Terkait