Karena itu, wanita berumur 30 tahun ini mengaku sempat kewalahan karena harus sering-sering mengeluarkan ASI-nya. Jika tidak, payudaranya akan membengkak dan sekujur tubuhnya kesakitan. Bahkan ia mengaku sering keluar-masuk rumah sakit hanya gara-gara telat pumping (memerah ASI).
Memang masalah sempat terselesaikan dengan menaruh ASI-ASI itu di botol dan disimpan di lemari es. Namun hingga tiga lemari es yang ada di rumahnya penuh, ASI Indar tetap mengalir. Beberapa di antaranya terpaksa dibuang karena kadaluarsa. Dari sinilah kemudian ia mendapat ide untuk menawarkan diri sebagai donor ASI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibu-ibu yang mengalami kesulitan dalam menyusui berbondong-bondong datang ke Indar. Menurut Indar, untuk bayi yang memiliki masalah kesehatan seperti lahir prematur atau sakit kuning, ia biasanya mendonorkan 50 botol, sedangkan untuk bayi sehat dibatasi 10-15 botol saja.
Indar sebenarnya tidak pilih-pilih, hanya saja untuk mencegah adanya masalah di kemudian hari, terutama yang berhubungan dengan aturan 'saudara sepersusuan', Indar mensyaratkan agar bayi yang menerima donor ASI darinya haruslah berkelamin laki-laki. Sebab kedua putra Indar, Dimi (1) dan Bara (8 bulan) juga laki-laki.
Yang lebih tidak terbayangkan oleh Indar adalah jasanya menawarkan diri sebagai donor ASI tersebut terdengar juga ke telinga pengurus Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT). Untuk itu WITT memberikan Kartini Award kepada Indar sebagai 'Ibu Pemberi ASI pada 100 Bayi'.
"Tidak tahu angka 100 itu dari mana, karena saya sendiri tidak mencatatnya. Saya kira memang banyak, tapi kalau 100 kok sepertinya nggak sampai segitu ya ha ha ha," pungkas Indar sambil tersenyum merendah.
Indar mengaku beruntung karena tak pernah kesulitan untuk mencari waktu pumping. "Alhamdulillah ruang laktasi di kantor cukup bagus, rekan-rekan kerja juga banyak mendukung," kata Indar yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Pekerjaan Umum, saat ditemui di rumahnya di Pondok Kelapa Jakarta Timur.
Kendati begitu, ia menyadari banyak wanita yang sulit mengeluarkan ASI. Menurutnya, salah satu penyebab utama ASI tidak keluar adalah ibu yang stres. "Makanya harus happy. Jauhi stres. Pola makan juga harus sehat. Yang paling penting, usahakan untuk selalu konsisten dengan jadwal pumping," sarannya.
Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menambahkan lama penyimpanan ASI pernah tergantung kepada jenis alat pendingin yang digunakan. "Kalau disimpan di freezer satu pintu yang ada di dalam kulkas 2-3 minggu. Kalau di freezer 2 pintu yang terpisah dari kulkas 3-4 bulan," kata Mia.
(lil/up)











































