"Kalau masih baru (jenazahnya) biasanya masih mudah (diidentifikasi dengan DNA). Kalau kasus pembunuhan juga biasanya nggak sulit. Yang sulit itu kalau sudah lama, sudah membusuk, dan ini juga tergantung di mana jenazah ditemukan," kata dr Herawati Sudoyo, Ph.D, dokter, peneliti, dan penganalisa DNA forensik dari Lembaga Biologi Molekul Eijikman, saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Rabu (31/12/2014).
Tempat yang lembab dan banyak jamur menyulitkan dalam isolasi DNA. Sebab DNA lain bisa mengintervensi. Misalnya untuk mengidentifikasi jenazah seseorang di kuburan massal akan menemui kesulitan karena telah bercampur dengan jenazah lainnya. Maka itu, sumber DNA yang digunakan adalah tulang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengisolasi DNA, penyidik ataupun peneliti mengambil sumber DNA, misalnya dari darah. Kemudian darah merah dan darah putih dipecah membrannya. "DNA kalau selaputnya hilang maka akan melayang-layang. Kemudian nantinya ditentukan," imbuh dr Hera.
Selanjutnya DNA tersebut akan diperbanyak hingga jutaan kali. Proses pengkopian ini menggunakan prinsip alamiah, sebagaimana DNA di dalam tubuh manusia yang juga diperbanyak. Bahan untuk memperbanyak DNA harus sama dengan yang digunakan di tubuh.
"Memperbanyak DNA ada syaratnya, seperti harus menggunakan enzim khusus dan ada stepnya. Jadi DNA menggandakan diri dulu jadi satu untai tunggal dulu, lalu ganda. Ini dengan dipanaskan. Jangan sampai kondisinya balik lagi ke kondisi awal, karena kalau dingin pasti balik lagi," tutur dr Hera.
Nah, mengambil sampel banyak maka DNA akan semakin banyak. Namun DNA untuk forensik tidak perlu banyak-banyak. Setitik darah saja sudah bisa dijadikan bahan untuk mengidentifikasi.
"Tapi kalau fisik masih utuh, nggak perlu dilakukan identifikasi melalui DNA," ucap dr Hera.
(vit/up)











































