Menghadapi Trauma Akibat Kehilangan Keluarga karena Kecelakaan

Menghadapi Trauma Akibat Kehilangan Keluarga karena Kecelakaan

- detikHealth
Jumat, 02 Jan 2015 18:34 WIB
Menghadapi Trauma Akibat Kehilangan Keluarga karena Kecelakaan
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Meskipun kematian adalah pasti, namun banyak orang yang tidak siap harus berpisah dengan orang terkasih secara tiba-tiba, misalnya karena kecelakaan. Kecelakaan yang merenggut nyawa orang-orang tersayang kerap kali menorehkan trauma pada mereka yang ditinggalkan. Tidak mudah memang untuk tetap tegar, karena itu dukungan harus diberikan kepada mereka, karena hidup masih terus berjalan.

Psikolog klinis Untung Subroto Dharmawan, M.Psi mengatakan umumnya mereka yang kehilangan orang-orang tersayang akibat kecelakaan atau bencana mengalami secondary trauma. Agar mereka tidak merasa sendiri, butuh pendampingan antar anggota keluarga.

"Keluarga akan merasa didengarkan, sehingga mereka yang sedang bersedih merasa aman dan mendapatkan support dari orang terdekat. Anggota keluarga yang bersedih ini butuh didampingi dan didengarkan. Mereka butuh teman untuk bercerita dan mengeksepresikan kesedihannya saat kejadian berlangsung hingga masa berkabung," tutur Untung dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (2/1/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, saat pendampingan pada mereka yang mengalami secondary trauma, antar anggota keluarga juga dapat saling memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer seperti makanan, minuman, dan istirahat yang cukup. Walaupun hal ini sulit untuk dilakukan tapi merupakan hal penting dalam menjaga kesehatan agar tetap baik.

Tak lupa informasi-informasi penting lainnya terkait keluarga korban juga harus diberikan dengan tepat oleh pihak yang berwenang, agar keluarga memperoleh kepastian yang tepat. "Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan anggota keluarga saat ini yang serba tidak menentu menunggu kepastian anggota keluarga yang mereka cintai," imbuh Untung.

Sementara itu, psikolog dan pemuka agama dapat berperan dengan memberikan penguatan dan pendampingan. Mulai dari masa penantian kedatangan anggota keluarga yang menjadi korban hingga penyerahan jenazah dari pihak berwenang pada anggota keluarga untuk dimakamkan.
Menemani anggota keluarga selama melewati masa berkabung dan mengajak kembali anggota keluarga untuk kembali beraktivitas normal pun penting dilakukan.

"Jika secondary trauma ini terus berlangung lebih dari satu bulan, sebaiknya direkomendasi ke profesional," pesan Untung.

(vit/vit)

Berita Terkait