Variasi Genetik Bagus, Hepatitis C Orang Indonesia Lebih Mudah Diobati

Variasi Genetik Bagus, Hepatitis C Orang Indonesia Lebih Mudah Diobati

- detikHealth
Kamis, 08 Jan 2015 13:48 WIB
Variasi Genetik Bagus, Hepatitis C Orang Indonesia Lebih Mudah Diobati
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Terapi standar untuk pengobatan penyakit hepatitis C di Indonesia adalah dengan menggunakan terapi kombinasi obat pegylated interferon dan ribarivin (Peg-IFN/RBV). Meski disebut standar, namun sebenarnya terapi tersebut tidak efektif untuk semua orang.

Dalam studi yang dilakukan oleh Dr dr Andri Sanityoso, SpPD-KGEH, dari RSCM UI, pada kebanyakan orang Eropa pengobatan hepatitis C dengan Peg-IFN/RBV sudah jarang atau bahkan tidak digunakan. Hal tersebut dikarenakan obat tidak efektif menyembuhkan penyakit hepatitis C masyarakat di sana.

"Mereka di sana dengan obat ini angka keberhasilannya kecil, mengecewakan. Tapi kalau di Indonesia, Asia, hasilnya berbeda. Keberhasilannya tinggi," kata dr Andri saat menyampaikan hasil studi yang sekaligus menjadi disertasi program doktornya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa yang membuat perbedaan efektivitas tersebut? dr Andri mengatakan pada kebanyakan orang Asia ada satu komponen genetik yang diduga berkaitan erat dengan keampuhan obat. Komponen ini disebut single nucleotides polymorphism (SNP) IL-28B dan merupakan variasi genetik antar ras manusia.

"Jadi orang-orang ras Asia punya keuntungan karena variasi genetiknya yang baik, bagus, sehingga dia merespons dengan pengobatan lebih tinggi," ujar dr Andri.

Pada orang yang tidak memiliki variasi genetik tersebut, ia harus menggunakan lebih banyak macam obat-obatan untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

"Obat-obatan yang baru ini harganya mahal sementara dua obat yang dikombinasi sekarang ditanggung BPJS. Artinya, karena hasil bagus dan ditanggung pemerintah untuk sekarang masih bisa dipakai," papar dr Andri.

Hepatitis C sendiri adalah penyakit hati menular yang menurut riset kesehatan dasar (riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2013 mengjangkiti sekitar 2,5 persen penduduk Indonesia. Jika terlambat diobati, hepatitis dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.

(vit/vit)

Berita Terkait