Dalam studi yang dilakukan oleh Dr dr Andri Sanityoso, SpPD-KGEH, dari RSCM UI, pada kebanyakan orang Eropa pengobatan hepatitis C dengan Peg-IFN/RBV sudah jarang atau bahkan tidak digunakan. Hal tersebut dikarenakan obat tidak efektif menyembuhkan penyakit hepatitis C masyarakat di sana.
"Mereka di sana dengan obat ini angka keberhasilannya kecil, mengecewakan. Tapi kalau di Indonesia, Asia, hasilnya berbeda. Keberhasilannya tinggi," kata dr Andri saat menyampaikan hasil studi yang sekaligus menjadi disertasi program doktornya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi orang-orang ras Asia punya keuntungan karena variasi genetiknya yang baik, bagus, sehingga dia merespons dengan pengobatan lebih tinggi," ujar dr Andri.
Pada orang yang tidak memiliki variasi genetik tersebut, ia harus menggunakan lebih banyak macam obat-obatan untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
"Obat-obatan yang baru ini harganya mahal sementara dua obat yang dikombinasi sekarang ditanggung BPJS. Artinya, karena hasil bagus dan ditanggung pemerintah untuk sekarang masih bisa dipakai," papar dr Andri.
Hepatitis C sendiri adalah penyakit hati menular yang menurut riset kesehatan dasar (riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2013 mengjangkiti sekitar 2,5 persen penduduk Indonesia. Jika terlambat diobati, hepatitis dapat berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.
(vit/vit)











































