Di Indonesia, operasi transplantasi kornea biasanya menggunakan teknik Penetrating Keratoplasty (PK). dr Setiyo Budi Riyanto, SpM, Direktur Indonesia Society of Cataract and Refractive Surgery (INASCRS) mengatakan teknik ini mengganti seluruh lapisan kornea yang ada di mata, meskipun yang rusak hanya sebagian.
Alhasil, risiko penolakan mata pasien terhadap kornea baru lebih tinggi. Kornea mata rentan bengkak dan tentunya masa penyembuhan yang diperlukan lebih lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lamellar Keratoplasty ini hanya mengganti lapisan kornea yang rusak, tanpa harus mengganti keseluruhan lapisan. Jadi rehabilitasi lebih cepat dan risiko penolakan tubuh pasien terhadap donor lebih kecil," ungkap Prof Aldave, dalam konferensi pers di JEC, Jl Panjang, Kedoya, Jakarta Barat, Kamis (8/1/2015).
detikHealth berkesempatan untuk melihat bagaimana proses transplantasi kornea dengan teknik baru ini secara langsung melalui proyektor. Dari penjelasan dr Setiyo, diketahui pasien yang akan dioperasi mengalami kerusakan di bagian kornea dalam atau lapisan endothelium.
Operasi dilakukan oleh dr Johan Hutauruk, SpM dari JEC. Selama operasi berlangsung, para peserta workshop yang terdiri dari media dan para dokter mata didampingi oleh Prof Aldave dan dr Setiyo sebagai moderator. Mereka menjelaskan langkah-langkah operasi yang dilakukan satu per satu.
Operasi berlangsung selama lebih dari satu jam. Di akhir operasi, Prof Aldave memuji tindakan operasi yang dilakukan oleh dr Johan. Bahkan menurutnya teknik yang dilakukan dr Johan tak kalah dari dokter-dokter mata lainnya di Amerika.
"Very good, well done. I think dr Johan did a good job," ucapnya.
(rsm/vit)











































