November: Pulang dari Liberia, TKI Jatuh Sakit Dikira Kena Wabah Ebola

Kaleidoskop 2014

November: Pulang dari Liberia, TKI Jatuh Sakit Dikira Kena Wabah Ebola

- detikHealth
Jumat, 09 Jan 2015 12:06 WIB
November: Pulang dari Liberia, TKI Jatuh Sakit Dikira Kena Wabah Ebola
Jakarta - Konon wabah Ebola yang mematikan dari Afrika Barat takkan mampir ke Indonesia karena letak geografisnya yang berjauhan. Namun di awal bulan November 2014, tiba-tiba muncul kabar ada sejumlah pasien terduga Ebola di Indonesia.
 
Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kediri, Jawa Timur berinisial GN (46) dikabarkan menjalani perawatan intensif di RSUD Pelem, Pare, Kabupaten Kediri. Pasien ini sebenarnya hanya didiagnosis mengalami Acute Febrile Illness (demam akut), namun kemudian tim dokter merujuknya untuk diisolasi karena punya riwayat bepergian ke daerah terjangkit Ebola, yakni Liberia.
 
Seperti diketahui, Liberia merupakan satu dari tiga negara di Afrika Barat yang terjangkit wabah Ebola sejak Februari lalu, di samping Guinea dan Siera Leone. GN sendiri diketahui pernah tinggal di Liberia selama tujuh bulan sebagai TKI, dan baru pulang ke Indonesia pada tanggal 26 Oktober 2014.

Pria ini bukanlah yang pertama diduga sebagai suspek Ebola. Sebelumnya pria asal Madiun, Jawa Timur berusia 29 tahun juga mengeluh demam, dan langsung dirawat intensif di rumah sakit setempat. Pria ini masih satu rombongan dengan pasien yang menjadi suspek Ebola di Kediri yakni para TKI yang baru pulang dari Liberia, berjumlah 28 orang.
 
Setelah dikarantina, sampel darah dari kedua suspek dikirim ke lab milik Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Jakarta. Tercatat ada 8 sampel yang diperiksa, masing-masing mencakup sampel EDTA (ethylenediaminetetraacetic acid atau asam etilenadiaminatetraasetat) dan sampel serum.
 
Tak hanya kondisi si pasien yang dipantau, anggota keluarga yang punya riwayat kontak dengan pasien juga diamati. Terutama kalau mereka terserang demam. Dua hari kemudian, hasil analisis sampel dari kedua suspek keluar.
 
"Dari pembacaan hasil PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan elektroforesis maka semua dilaporkan 'no band', artinya semua sample dari kasus Madiun dan Kediri hasilnya negatif Ebola. Bukan sakit Ebola," ungkap Prof Tjandra Yoga Aditama, Kepala Balitbangkes Kemenkes RI.
 
Terbukti beberapa hari setelah dirawat suhu tubuh pasien GN menurun dan sudah tidak ada keluhan nyeri, termasuk nyeri telan. Hal ini dipastikan juga oleh Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek, SpM(K). Ia mengatakan bahwa kemungkinan besar dua suspek Ebola di Madiun dan Kediri tersebut mengalami malaria.
 
"Sudah dites dan negatif hasil tesnya. Kemungkinan besar terserang malaria. Karena sebelumnya dia sudah pernah kena malaria," tutur Menkes.

Sebelum pulang, para TKI ini sebenarnya telah menjalani masa karantina selama 6 hari di Liberia. Begitupun sesampainya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, oleh Kantor Karantina Pelabuhan (KKP), ke-28 TKI dikarantina selama 1 hari dan mendapatkan pengawasan selama 7 hari. Beruntung dari hasil pemeriksaan pihak KKP, tidak ada satupun TKI yang dinyatakan sakit.
 
Kendati demikian, Menkes meminta agar masyarakat tetap waspada terhadap virus ini. Lagipula demam saja, menurut Prof Tjandra tidak selalu disebabkan oleh virus Ebola. Sebab ada 4 gejala yang merupakan indikasi kuat seseorang tertular Ebola, yakni demam yang tidak diketahui penyebabnya; nyeri otot hebat; gangguan saluran pencernaan; dan manifestasi pendarahan.
 
Setidaknya Menkes juga telah memastikan salah satu bandara tersibuk di Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta telah siap melakukan tindakan pencegahan masuknya penyakit infeksi berbahaya seperti MERS dan Ebola.
 
Ketika berkunjung ke bandara, Menkes diperlihatkan sistem penanganan penumpang yang memiliki gejala penyakit di bandara tersebut. Menurut Kepala KKP Kelas I Bandara Soekarno-Hatta, dr Oenedo Gumarang, MPHM, setiap penumpang yang masuk di terminal kedatangan akan melewati thermal scanner. Dari situ jika ketahuan suhu tubuhnya di atas 38 derajat, penumpang akan dibawa ke ruang isolasi untuk diwawancara.
 
Langkah selanjutnya adalah menentukan apakah penumpang perlu dirujuk atau tidak. Jika akhirnya dirujuk, penumpang terduga berpenyakit akan diberikan baju pelindung untuk meminimalkan kontak ‎dengan penumpang lainnya. Setelah itu, penumpang tersebut akan dirujuk ke RS Sulianti Saroso.

(lil/vit)

Berita Terkait