Desember: Dampak Psikologis Tragedi Jatuhnya AirAsia

Kaleidoskop 2014

Desember: Dampak Psikologis Tragedi Jatuhnya AirAsia

- detikHealth
Senin, 12 Jan 2015 15:47 WIB
Desember: Dampak Psikologis Tragedi Jatuhnya AirAsia
dok: Reuters/detikcom
Jakarta - Indonesia menutup tahun 2014 dengan kelam karena musibah kecelakaan pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura. Diduga pesawat tak kuasa menahan turbulensi yang begitu kuat akibat menembus cuaca buruk.

Ironisnya, kabar musibah ini justru ditanggapi sebagian pengguna media sosial sebagai lelucon. Salah satu contoh lelucon yang beredar di jejaring sosial Twitter adalah cuitan tentang pesawat yang dibandingkan dengan pacar yang 'hilang kontak'.

Anehnya meski banyak yang mengecam, ada juga yang menganggapnya lucu lalu menyebarkannya lagi. Menurut psikolog klinis dari Universitas Tarumanagara, Untung Subroto Dharmawan, M.Psi., lelucon semacam ini berasal dari orang-orang tidak cerdas dalam memanfaatkan media sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang nulis lelucon itu juga pasti orang yang nggak punya empati. Tapi belum bisa kita pastikan orang itu gangguan atau bukan. Karena harus diobservasi dulu lebih lanjut," lanjut Untung.

Namun yang paling dikhawatirkan psikolog adalah dampak psikis yang dirasakan pihak lain, yaitu keluarga korban. Apalagi di samping lelucon, di media sosial juga beredar hoax atau isu miring menyusul musibah tersebut, misal tentang beredarnya kabar pesawat AirAsia QZ8501 yang mendarat di suatu tempat dan seluruh penumpang dinyatakan selamat, padahal tidak terbukti kebenarannya.

"Bikin lebih stres. Karena ketidakpastian itu pasti bikin stres, apalagi saat genting," timpal Rosdiana Setyaningrum, M.Psi, MHPEd.

Psikolog klinis dari RS Pluit Jakarta tersebut menambahkan akan timbul dua trauma yang dirasakan keluarga akibat lelucon maupun isu miring terkait musibah yang dialami orang-orang yang mereka cintai. "Trauma karena kehilangan keluarga dan trauma karena merasa dijelek-jelekkan. Akibanya, proses trauma healing bagi keluarga korban akan berlangsung lebih lama," paparnya.

Untuk memberikan trauma healing pada keluarga korban pesawat AirAsia, sekitar 50 tenaga psikolog dari Universitas Airlangga dan TNI/Polri pun diperbantukan di ruang Crisis Center, Terminal 2 Bandara Juanda, Surabaya.

Rosdiana menerangkan, trauma healing merupakan terapi yang diberikan psikolog untuk mempercepat proses penyembuhan trauma. Apalagi menurutnya, kehilangan seseorang yang dicintai, seperti halnya yang terjadi pada korban musibah hilangnya pesawat AirAsia, merupakan faktor penyebab trauma yang sangat signifikan.

"Ditinggal seseorang itu kan sebetulnya trauma paling berat yang pertama, jauh levelnya dibandingkan kehilangan pekerjaan atau harta benda. Orang sakit lama aja terus meninggal kita masih bisa trauma luar biasa, apalagi yang kaya gini yang mau pergi liburan tau-tau tidak ada," ujar Rosdiana yang akrab disapa Diana tersebut.

Setiap keluarga korban akan mengalami beberapa tahapan sampai akhirnya ia bisa menerima keadaan. Psikolog yang memberikan terapi trauma healing bertugas untuk membantu untuk melalui tahapan-tahapan tersebut dengan cepat.

Diana juga mengatakan justru jika keluarga korban tidak mendapat terapi trauma healing, ada kemungkinan ia sulit menerima kenyataan dan bisa menjadi depresi. "Bisa histeris sih, jadi sedih banget karena enggak ada teman untuk cerita. Untuk sekarang tahap awal sih histeris dulu. Pendampingan paling efektif itu saat ini tidak perlu apa-apa cuma butuh teman untuk cerita," kata Diana.

Diana menyarankan agar untuk saat ini keluarga korban tetap bersama orang-orang terdekat. Dengan demikian diharapkan tahapan duka bisa lebih cepat terlewati karena keluarga merasa mendapat dukungan dari lingkungan.

(lil/up)

Berita Terkait