Hal-hal yang membuat Crystal alergi di antaranya kertas, plastik, sabun, deterjen, obat pereda nyeri, aroma tertentu, debu, lip balm, kacang, permen lolipop, penyejuk ruangan, antibiotik, bedak, zat perekat, susu dan segala jenis produk turunannya, gluten hingga pewarna makanan (terutama merah dan biru).
Agar bisa bertahan hidup, Crystal hanya bisa makan salad segar, ayam organik dan air mineral. Tiap kali bepergian, Crsytal terpaksa mengenakan masker kemanapun ia pergi dan harus melindungi dirinya dari paparan cahaya matahari. Wanita berambut panjang ini bahkan alergi pada lateks. "Karena kita takkan pernah tahu apa yang memicu reaksi alerginya," ungkap sang ibu, Susan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum diagnosisnya ditemukan, Crystal adalah wanita muda yang sangat sibuk. Ia bisa menghabiskan waktu selama 50-60 jam perminggu di tempat kerjanya, Opporturnity Alliance Family Center di South Portland, AS. Hingga suatu ketika, ia harus dilarikan ke rumah sakit karena mengeluh gatal-gatal, lidahnya membengkak, sesak napas, kelelahan dan muncul sensasi seperti terbakar di sekujur tubuhnya.
Ternyata itu bukan kali terakhir Crystal ke rumah sakit. Sejak tahun 2011, tercatat Crystal sudah keluar-masuk rumah sakit sebanyak 30 kali lebih karena gejala yang sama. Kadang ia harus dibawa ke ICU hanya karena minum minuman kesehatan seperti Gatorade.
"Saya tak pernah kapan harus merasa cemas, dan kapan harus merasa rileks," keluh Crystal seperti dikutip dari news.com.au, Kamis (15/1/2015).
Setelah sempat terpuruk dalam depresi karena tak bisa melakukan apa-apa, di usianya yang kini menginjak 29 tahun Crystal akhirnya mulai menemukan semangat hidupnya lagi. Ia mulai rutin berolahraga agar kepadatan tulangnya terjaga, begitu juga demi meningkatkan kapasitas paru-parunya.
Sang ibu bahkan mengizinkan putri semata wayangnya untuk tinggal seorang diri di apartemen, meski harus menghadapi berbagai risiko seorang diri. "Satu tantangan bagi saya adalah aroma bahan kimia dari ruang laundry di apartemen atau penghuni lain yang diam-diam merokok di tangga apartemen. Sebab bila aroma ini masuk ke kamar, saya bisa saja mati sewaktu-waktu," katanya.
Ia tetap mempertahankan pekerjaannya dan menjalin persahabatan dengan orang-orang yang ia temui di pusat kebugaran setempat. Beruntung pemilik dan staf gym tempatnya berlatih memahami kebutuhan Crsytal dan sangat menjaga kebersihan gym yang dikelolanya. Mereka bahkan menyingkirkan berbagai hal yang bisa jadi alergen bagi Crystal.
Namun ia membuktikan ia bisa bertahan hidup walaupun harus memakai masker setiap saat dan rutin mengonsumsi 22 jenis obat yang diresepkan untuknya, tak terkecuali menemui 12 dokter sekaligus untuk memeriksakan keadaannya.
"Saya tahu suatu hari nanti obat-obat ini akan membuat tubuh saya imun, dan tak bisa membantu saya lagi. Tapi saya bersyukur masih bisa hidup sampai saat ini," pungkasnya.
(lil/vit)











































