Meski sudah dinyatakan sembuh, Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) tak jarang dijauhi oleh masyarakat. Apalagi, jika kusta yang pernah dialami sampai membuat si pasien mengalami kecacatan.
Hal ini pun diakui Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI dr Sigit Priohutomo, MPH, yang menyatakan bahwa meski sudah sembuh, kecacatan yang dialami OYPMK menetap dan terlihat. Hal inilah yang sering menimbulkan stigma.
"Kalau orang ini sudah diobati dan sudah dinyatakan sembuh ya nggak bakal menulari ke orang lain. Bahkan kadang ada yang sampai dikeluarkan dari tempat kerjanya," kata dr Sigit di kantor Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (16/1/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada pula orang yang nggak mau ambil mantu karena orang tuanya si anak ini dulunya kena kusta karena khawatir kusta ini adalah penyakit turunan. Padahal tidak menurun," kata Dr dr Hariadi Wibisono, MPH selaku Ketua Komite Ahli Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia.
Berdasarkan studi yang dilakukan di kabupaten Subang, Malang, Gresik, Gowa, dan Bone tahun 2007-2008, stigma pada masyarakat soal pasien kusta paling banyak yakni kusta memalukan (lebih dari 50%) kemudian kusta sering membuat pasiennya ditolak saat membelimakanan, mendapat pekerjaan, dan problem saat menikah (lebih dari 40%).
Saat ini, untuk mencapai target eliminasi kusta di seluruh provinsi di Indonesia pada tahun 2019, dilakukan salah satu metode deteksi dini kusta terbaru yakni melalui kemoprofilaksis. Metode ini berguna untuk mencegah anggota keluarga tertular kusta sehingga mata rantai penularan bisa diputus.
"Jadi kita kan melakukan pemeriksaan kontak, survei desa, pemeriksaan ke UKS juga, nah kalau ada yang terindikasi kusta, kita cari rumahnya di mana dan kita beri obat rifampisin, satu kali minum saja untuk membantu agar dia tidak tertular," tutur kasubdit kusta direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI, Rita Djufuri DCN, MEpid.
Dikatakan Rita, metode ini sudah diuji coba sejak tahun 2012 di 6 wilayah di Indonesia, di antaranya Sumba, Sumenep, dan Sampang. Hasilnya pun efektif sebab kasus baru kusta bisa mengalami penurunan sampai 20%. Meskipun, metode kemoprofilaksis ini belum ditetapkan sebagai panduan di tingkat nasional.
(rdn/up)











































