Dari Lebah Sampai Tikus, Hewan-hewan Unik Pendeteksi Penyakit

Dari Lebah Sampai Tikus, Hewan-hewan Unik Pendeteksi Penyakit

- detikHealth
Jumat, 30 Jan 2015 14:04 WIB
Dari Lebah Sampai Tikus, Hewan-hewan Unik Pendeteksi Penyakit
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Penyakit seringkali tak menimbulkan gejala, sehingga baik pasien maupun keluarga di sekitarnya seringkali luput mendeteksi perubahan yang ada. Nah, hewan-hewan ini justru memiliki kemampuan untuk mendeteksi penyakit lho, baik secara naluri maupun karena dilatih.

Dikutip detikHealth dari berbagai sumber pada Jumat (30/1/2015), berikut daftar hewan pendeteksi penyakit dari berbagai negara:

1. Anjing

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Peneliti Jerman melaporkan dalam Journal European Respiratory bahwa anjing dapat dilatih untuk mendeteksi kanker paru-paru dengan mengendus napas manusia.

Ilmuwan melakukan penelitian dengan 4 anjing yaitu 2 anjing gembala Jerman, 1 anjing jenis Lab dan dan 1 anjing gembala Australia. Anjing-anjing ini mampu mengendus kanker pada 71 sampel dari 100 sampel napas pasien kanker paru-paru. Anjing-anjing ini juga mampu mengidentifikasi sampel bebas kanker dengan tingkat keakuratan 93%.

Beberapa penelitian sebelumnya telah memaparkan beberapa penyakit yang dapat diendus oleh anjing. Anjing mampu mengidentifikasi kanker kandung kemih dan kanker usus besar dengan tingkat keberhasilan 40% hingga 90%, belum lagi kemampuannya dalam mengendus kadar gula darah rendah pada penderita diabetes.

2. Lebah

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Seorang ilmuwan di Portugis menciptakan sebuah teknik baru untuk mendeteksi kanker. Bukan dengan peralatan serba elektronik, melainkan dengan memanfaatkan indra penciuman lebah.

Caranya, pasien diminta menghembuskan napas di sebuah wadah kaca yang di dalamnya ada seekor lebah. Disediakan pula satu wadah lain, dan jika si lebah terbang berpindah ke wadah yang satunya maka itu berarti ada penyakit pada tubuh pasien.

Susana Soares, ilmuwan yang mempresentasikan teknik ini di Dutch Design Week di Eindhoven bulan lalu mengatakan bahwa penciuman lebah bisa mendeteksi adanya kanker. Namun kemampuan itu tidak dimiliki sembarang lebah, melainkan yang sudah dilatih khusus. "Lebah itu bisa dilatih dalam waktu 10 menit saja," kata Soares.

Para ilmuwan mengungkap bahwa dibandingkan dengan anjing pelacak, lebah memiliki penciuman yang lebih tajam. Lebah bahkan bisa dilatih untuk mendeteksi bom. Sebuah perusahaan bernama Insecintel pernah melatih 'lebah pelacak' untuk dipekerjakan dalam operasi anti-teror. Selain untuk mendeteksi kanker, lebah diklaim bisa mendeteksi sejumlah penyakit lain. Di antaranya adalah tuberculosis (TB atau TBC), diabetes dan, lebih spesifik lagi adalah kanker kulit dan kanker paru.

3. Tikus

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Di benua Afrika, tikus-tikus dilatih untuk mendeteksi pasien Tubercolusis atau TB. Maklum, negara-negara di Afrika masih banyak yang bermasalah dengan TB dan AIDS.

Untuk mendeteksi TB, tikus yang digunakan bukanlah tikus rumahan biasa, melainkan 'tikus berkantung raksasa' yang merupakan hewan asli sub-Sahara Afrika. Spesies ini memang terkenal memiliki indra penciuman yang luar biasa.

Oleh karena itu, tikus ini mendapat julukan dengan sebutan 'tikus pahlawan'. Kini tikus ini akan diminta mengatasi ancaman lain di Mozambik, yaitu wabah TB yang sering dikaitkan dengan infeksi HIV/AIDS. Di Mozambik, penyakit TB menyerang 6 dari 1.000 orang. Setengah di antaranya tidak terdeteksi.

4. Kucing

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Seekor kucing dengan kemampuan luar biasa mampu mendeteksi pasien di panti jompo yang akan meninggal. Kucing bernama Oscar itu mendeteksi 50 kematian dengan gayanya mendatangi pasien yang akan meninggal di jam-jam terakhirnya.

Oscar adalah kucing yang tinggal di panti jompo Steere House Nursing and Rehabilitation Centre di Providence, Rhode Island. Panti jompo ini khusus merawat pasien usia lanjut yang terkena penyakit demensia (pikun).

Dr David Dosa, seorang geriatrik (ahli penyakit lanjut usia) yang juga asisten profesor di Brown University AS mengatakan, dalam 5 tahun terakhir kucing Oscar mencatat rekor jarang salah terhadap prediksi pasien yang akan meninggal. Malahan perawatnya yang justru salah memprediksi pasien yang dianggap sudah mendekati kematian.

Kucing Oscar akan berdiri di depan kamar pasien dan kadang menggores-goreskan pintu agar dia dapat masuk. Biasanya beberapa jam setelah berperilaku seperti itu, pasien yang didatangi Oscar akan meninggal.

Dia hanya menduga kucing Oscar memiliki kemampuan seperti anjing yang bisa mencium bau kanker untuk mendeteksi adanya keton, bikomia yang dilepaskan oleh sel-sel mati.
Halaman 2 dari 5
Peneliti Jerman melaporkan dalam Journal European Respiratory bahwa anjing dapat dilatih untuk mendeteksi kanker paru-paru dengan mengendus napas manusia.

Ilmuwan melakukan penelitian dengan 4 anjing yaitu 2 anjing gembala Jerman, 1 anjing jenis Lab dan dan 1 anjing gembala Australia. Anjing-anjing ini mampu mengendus kanker pada 71 sampel dari 100 sampel napas pasien kanker paru-paru. Anjing-anjing ini juga mampu mengidentifikasi sampel bebas kanker dengan tingkat keakuratan 93%.

Beberapa penelitian sebelumnya telah memaparkan beberapa penyakit yang dapat diendus oleh anjing. Anjing mampu mengidentifikasi kanker kandung kemih dan kanker usus besar dengan tingkat keberhasilan 40% hingga 90%, belum lagi kemampuannya dalam mengendus kadar gula darah rendah pada penderita diabetes.

Seorang ilmuwan di Portugis menciptakan sebuah teknik baru untuk mendeteksi kanker. Bukan dengan peralatan serba elektronik, melainkan dengan memanfaatkan indra penciuman lebah.

Caranya, pasien diminta menghembuskan napas di sebuah wadah kaca yang di dalamnya ada seekor lebah. Disediakan pula satu wadah lain, dan jika si lebah terbang berpindah ke wadah yang satunya maka itu berarti ada penyakit pada tubuh pasien.

Susana Soares, ilmuwan yang mempresentasikan teknik ini di Dutch Design Week di Eindhoven bulan lalu mengatakan bahwa penciuman lebah bisa mendeteksi adanya kanker. Namun kemampuan itu tidak dimiliki sembarang lebah, melainkan yang sudah dilatih khusus. "Lebah itu bisa dilatih dalam waktu 10 menit saja," kata Soares.

Para ilmuwan mengungkap bahwa dibandingkan dengan anjing pelacak, lebah memiliki penciuman yang lebih tajam. Lebah bahkan bisa dilatih untuk mendeteksi bom. Sebuah perusahaan bernama Insecintel pernah melatih 'lebah pelacak' untuk dipekerjakan dalam operasi anti-teror. Selain untuk mendeteksi kanker, lebah diklaim bisa mendeteksi sejumlah penyakit lain. Di antaranya adalah tuberculosis (TB atau TBC), diabetes dan, lebih spesifik lagi adalah kanker kulit dan kanker paru.

Di benua Afrika, tikus-tikus dilatih untuk mendeteksi pasien Tubercolusis atau TB. Maklum, negara-negara di Afrika masih banyak yang bermasalah dengan TB dan AIDS.

Untuk mendeteksi TB, tikus yang digunakan bukanlah tikus rumahan biasa, melainkan 'tikus berkantung raksasa' yang merupakan hewan asli sub-Sahara Afrika. Spesies ini memang terkenal memiliki indra penciuman yang luar biasa.

Oleh karena itu, tikus ini mendapat julukan dengan sebutan 'tikus pahlawan'. Kini tikus ini akan diminta mengatasi ancaman lain di Mozambik, yaitu wabah TB yang sering dikaitkan dengan infeksi HIV/AIDS. Di Mozambik, penyakit TB menyerang 6 dari 1.000 orang. Setengah di antaranya tidak terdeteksi.

Seekor kucing dengan kemampuan luar biasa mampu mendeteksi pasien di panti jompo yang akan meninggal. Kucing bernama Oscar itu mendeteksi 50 kematian dengan gayanya mendatangi pasien yang akan meninggal di jam-jam terakhirnya.

Oscar adalah kucing yang tinggal di panti jompo Steere House Nursing and Rehabilitation Centre di Providence, Rhode Island. Panti jompo ini khusus merawat pasien usia lanjut yang terkena penyakit demensia (pikun).

Dr David Dosa, seorang geriatrik (ahli penyakit lanjut usia) yang juga asisten profesor di Brown University AS mengatakan, dalam 5 tahun terakhir kucing Oscar mencatat rekor jarang salah terhadap prediksi pasien yang akan meninggal. Malahan perawatnya yang justru salah memprediksi pasien yang dianggap sudah mendekati kematian.

Kucing Oscar akan berdiri di depan kamar pasien dan kadang menggores-goreskan pintu agar dia dapat masuk. Biasanya beberapa jam setelah berperilaku seperti itu, pasien yang didatangi Oscar akan meninggal.

Dia hanya menduga kucing Oscar memiliki kemampuan seperti anjing yang bisa mencium bau kanker untuk mendeteksi adanya keton, bikomia yang dilepaskan oleh sel-sel mati.

(ajg/vit)

Berita Terkait